PravadaNews – Kematian Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2) dini hari, mengguncang Republik Islam Iran. Setelah sempat dibantah, kantor berita Tasnim dan Fars memastikan pemimpin tertinggi itu tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Khamenei dilaporkan gugur di kantornya saat menjalankan tugas, bersama putrinya, menantu laki-laki, serta cucunya.
Pengumuman resmi menyebutnya sebagai syahid martir Revolusi Islam. Pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur. Di jalan-jalan Teheran, kabar itu disebut sebagai “hari yang berbeda” dalam sejarah negara tersebut. Citra satelit memperlihatkan kediamannya hancur total, simbol dari sebuah babak yang ditutup dengan ledakan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan bahwa operasi militer besar terhadap Iran telah dimulai menyusul serangan rudal Israel. Trump menyebut pemboman itu “berat dan tepat”, dan akan berlanjut selama diperlukan untuk mencapai tujuan strategis Washington.
Namun sosok yang kini disebut media Iran sebagai “martir Revolusi Islam” itu bukan hanya figur politik, melainkan penanda zaman panjang Republik Islam.
Dari Mashhad ke Qom
Lahir di Mashhad, Provinsi Khorasan, pada 19 April 1939, Ali Khamenei ialah putra kedua Sayyed Javad Khamenei, ulama sederhana berdarah Azerbaijan. Khamenei telah mendalami Al Quran sejak usia empat tahun. Pendidikan teologinya ditempa di pusat-pusat studi Islam terkemuka seperti Najaf dan Qom.
Baca juga: Ayatollah Khamenei Gugur
Di Qom, Khamenei menjalin kedekatan dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini, arsitek Revolusi Islam 1979. Hubungan guru dan murid itu kelak menjadi poros kekuasaan baru di Iran.
Sebagai aktivis yang menentang monarki Shah Pahlavi, Khamenei berulang kali ditangkap polisi rahasia SAVAK dan diasingkan ke wilayah terpencil. Namun Khamenei kembali ke Teheran, ikut memimpin gelombang protes 1978 yang menggulingkan dinasti Pahlavi. Revolusi Islam mengubah arah sejarah Iran dan hidupnya.
Arsitek Republik Islam
Pada 1989, setelah wafatnya Khomeini, Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran. Jika Khomeini merupakan motor ideologis revolusi, Khamenei menjadi arsitek yang membangun fondasi negara pasca revolusi.
Pengalamannya sebagai presiden di tengah perang berdarah Iran-Irak pada 1980-an membentuk watak politiknya, yakni curiga terhadap Barat, terutama Amerika Serikat, yang kala itu mendukung Saddam Hussein. Rasa terisolasi itu menjadi memori kolektif yang terus memengaruhi kebijakan luar negeri Teheran.
Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bertransformasi dari pasukan paramiliter menjadi institusi keamanan, politik, dan ekonomi paling berpengaruh di Iran. Pengaruhnya merambah parlemen, bisnis, hingga kebijakan regional.
Namun Khamenei bukan hanya garis keras. Khamenei juga dikenal pragmatis. Ketika sanksi internasional akibat program nuklir menekan ekonomi Iran, Khamenei menyetujui negosiasi Presiden Hassan Rouhani dengan Barat. Hasilnya ialah Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) 2015, kesepakatan pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi.
Bagi sebagian pendukungnya, langkah itu menunjukkan kelenturan taktis tanpa mengorbankan prinsip. Bagi pengkritiknya, Khamenei tetap pusat dari sistem politik yang membatasi oposisi dan kebebasan sipil.
Gugur di Tengah Eskalasi
Kabar kematiannya sempat simpang siur. Iran awalnya membantah klaim Trump di media sosial Truth Social yang menyatakan Khamenei tewas dalam operasi militer tersebut. Namun pada Minggu (1/3/2026), agensi berita lokal mengonfirmasi kabar duka itu.
Hingga kini, tidak ada rincian resmi mengenai bagaimana persisnya ia tewas dalam serangan tersebut. Yang jelas, kematiannya terjadi di tengah eskalasi paling mematikan dalam konflik terbaru Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Di dalam negeri, Khamenei adalah figur sentral yang dicintai dan dikritik dalam kadar yang sama. Di panggung global, Khamenei simbol perlawanan Iran terhadap dominasi Barat sekaligus wajah dari sistem teokrasi modern.
Kini, Republik Islam Iran memasuki babak baru tanpa sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi poros kekuasaan tertinggi. Di antara puing bangunan dan gema sirene, yang tersisa adalah pertanyaan tentang arah negara itu selanjutnya dan bagaimana dunia merespons kehilangan seorang pemimpin yang selama hidupnya tak pernah lepas dari pusaran konflik global.















