PravadaNews – Para menteri luar negeri negara anggota Uni Eropa menggelar pertemuan di Brussels, Senin, untuk membahas perkembangan situasi di Timur Tengah serta langkah-langkah menjaga jalur pelayaran strategis selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan global.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan isu tersebut menjadi fokus utama dalam pertemuan Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa.
“Kami akan membahas soal Timur Tengah, semua yang terjadi di Timur Tengah yang juga berdampak pada Ukraina, mitra lainnya, dan topik utamanya adalah bagaimana menjaga Selat Hormuz tetap terbuka,” kata Kallas menjelang pertemuan di Brussels dikutip Senin (16/3/2026).
Baca juga : Iran Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil.
Sebagai respons, Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut turut memicu gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Situasi ini menyebabkan blokade de facto di selat tersebut dan berdampak pada tingkat ekspor serta produksi minyak di kawasan, yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.
Melalui pertemuan tersebut, Uni Eropa berupaya mencari langkah diplomatik guna meredakan ketegangan sekaligus memastikan jalur distribusi energi global tetap berjalan.















