PravadaNews – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai daya beli masyarakat melemah imbas kondisi ekonomi global yang tidak menentu akibat perang di Timur Tengah.
“Sekarang daya beli masyarakat melemah dan kondisi ekonomi serta politik global yang penuh ketidakpastian,” kata Ekonom INDEF, Hakam Naja dalam keterangannya kepada PravadaNews, Rabu (18/3/2026).
Hakam menjelaskan, faktor lemahnya daya beli masyarakat bisa dilihat dari banyaknya pemudik pada tahun ini. Ada perkiraan pemudik sampai 1 juta orang atau 50,60 persen penduduk Indonesia.
Menurut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) angka pemudik ini menurun sekitar 1,75 persen dari survei dan merosot 6,55 persen dibandingkan realisasi mudik 2025.
“Faktor ini jelas merupakan sebab dari penurunan arus mudik tersebut selain fakator sosial ekonomi,” jelas Hakam.
Baca Juga: Harga Rawit Merah ‘Makin Pedas’
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi sosial ekonomi masyarakat seperti terlihat pada kenaikan harga atau yang digambarkan dari inflasi bulanan sebesar 0,68 persen pada Februari 2026 dibandingkan penurunan harga-harga atau deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026.
Tidak hanya itu saja, lemahnya daya beli masyarakat karena nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.
Tekanan tersebut membuat harga barang hasil impor alami lonjakan yang signifikan. Akhirnya, masyarakat membeli dengan harga yang lebih tinggi.
“Juga faktor nilai tukar, sekarang yang menyentuh Rp17.000 lebih tinggi dari asumsi di APBN 2026 sebesar Rp16.500. Hal ini menjadikan lonjakan harga barang-barang yang diimpor termasuk makanan, minyak dan gas,” pungkas Hakam.















