Ilustrasi Kilang Minyak. (Foto: PravadaNews/Gemin IA)

Beranda / Mancanegara / 95 Negara Alami Lonjakan Harga BBM

95 Negara Alami Lonjakan Harga BBM

PravadaNews– Gangguan distribusi energi global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026 mulai menekan rantai pasok dunia. Dampaknya, harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak di sedikitnya 95 negara.

Berdasarkan data Global Petrol Prices yang dikutip Jumat (20/3), menunjukkan kenaikan harga bensin terjadi luas dalam hitungan pekan sejak konflik pecah. Lonjakan ini dipicu terganggunya jalur distribusi utama, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia.

Ekonom David McWilliams menilai gangguan tersebut berdampak langsung pada sistem logistik global.

“Napas kehidupan ekonomi global adalah transportasi. Ini tentang mengangkut barang dari A ke B,” kata dia kepada Al Jazeera dikutip Jumat (20/3/2026).

Baca juga : Krisis Hormuz Ancam Energi Hingga Digital Global

Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata naik dari US$2,94 per galon pada Februari menjadi US$3,58 per galon, atau meningkat sekitar 20 persen. Kenaikan lebih tajam terjadi di sejumlah negara berkembang, seperti Kamboja yang mencatat lonjakan hingga 68 persen, disusul Vietnam sekitar 50 persen.

Tekanan juga terasa di kawasan Asia yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Jepang dan Korea Selatan termasuk negara paling rentan karena sebagian besar kebutuhan minyaknya berasal dari kawasan Teluk. Keduanya mulai menyiapkan langkah darurat, seperti pemanfaatan cadangan strategis dan pengendalian harga.

Di Asia Selatan, dampaknya meluas hingga kebijakan domestik. Bangladesh menutup seluruh universitas untuk menghemat energi, sementara Pakistan menerapkan sistem kerja empat hari serta kebijakan bekerja dari rumah guna menekan konsumsi bahan bakar.

Lonjakan harga energi ini turut merambat ke sektor lain, terutama pangan. Biaya produksi dan distribusi meningkat seiring kenaikan harga bahan bakar, memperberat tekanan ekonomi global.

Sejumlah ekonom memperingatkan risiko stagflasi, kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi di tengah kenaikan harga energi. Pengalaman krisis minyak sebelumnya menunjukkan lonjakan harga kerap diikuti pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia.

Dengan kondisi yang masih bergejolak, banyak negara mulai mengantisipasi kenaikan lanjutan pada April mendatang, seiring penyesuaian harga energi di pasar global.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *