PravadaNews – Pemerintah memastikan kondisi pangan nasional berada dalam situasi aman dan terkendali menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Selain stok yang mencukupi, stabilitas harga juga terus dijaga agar tidak memberatkan masyarakat maupun merugikan petani.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, keberhasilan menjaga ketersediaan dan harga pangan merupakan hasil sinergi berbagai kebijakan, mulai dari peningkatan produksi hingga pengawasan distribusi di lapangan.
“Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum karena harga hasil panennya baik, pedagang tersenyum karena barang tersedia dan bisa dijual, dan masyarakat juga tersenyum karena harga pangan terjangkau. Itulah tujuan pemerintah menjaga pangan,” ujar Amran dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (24/3/2026).
Baca juga: Lawan Krisis Pangan
Amran menjelaskan, kondisi stok beras nasional saat ini sangat kuat. Cadangan Beras Pemerintah yang tersimpan di gudang Perum Bulog mencapai sekitar 4,09 juta ton, ditambah beras yang beredar di masyarakat serta potensi panen dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, kekuatan stok beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton atau cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga hampir satu tahun ke depan. Kenaikan produksi juga terlihat dari panen raya yang berlangsung di berbagai daerah sepanjang Maret hingga April 2026.
“Produksi kita meningkat, panen raya terjadi di banyak daerah, Februari Maret dan April banyak panen di berbagai daerah, sehingga stok beras nasional sangat kuat. Produksi kita sudah berada di atas kebutuhan konsumsi nasional,” kata Amran.
Selain beras, sejumlah komoditas pangan strategis juga tercatat dalam kondisi surplus. Mulai dari cabai rawit, daging ayam, hingga bawang merah, seluruhnya memiliki ketersediaan yang lebih tinggi dibandingkan kebutuhan.
Amran menilai kondisi surplus tersebut menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas harga di pasar. Amran menegaskan, kelancaran distribusi dari hulu ke hilir menjadi kunci agar harga tetap terkendali.
“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir,” ujar Amran.
Pemerintah juga terus memperketat pengawasan untuk mencegah praktik penimbunan maupun permainan harga, terutama selama periode Ramadan dan Idulfitri yang identik dengan lonjakan permintaan.
Amran menekankan pentingnya menjaga keseimbangan harga agar seluruh pihak mendapatkan manfaat yang adil.
“Harga pangan tidak boleh terlalu tinggi karena memberatkan masyarakat, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah karena merugikan petani. Pemerintah harus menjaga keseimbangan itu,” tegas Amran.
Sementara itu, Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional milik Bank Indonesia per Senin, 23 Maret 2026, menunjukkan tekanan harga pangan masih berlanjut setelah Lebaran, dengan kenaikan menonjol terjadi pada kelompok bumbu, cabai, beras, dan protein hewani.
Pergerakan ini menandakan biaya belanja rumah tangga belum mereda pada awal periode pasca-libur, ketika permintaan biasanya masih tinggi dan distribusi belum sepenuhnya normal.
Bawang merah misalnya, mencatat kenaikan 54,58 persen menjadi Rp68.400 per kg, sedangkan bawang putih naik 44,21 persen menjadi Rp57.900 per kg. Pada kelompok beras, kualitas bawah I naik 21,45 persen menjadi Rp17.550 per kg dan kualitas bawah II bertambah 22,41 persen menjadi Rp14.500 per kg. Beras medium I naik 20 persen menjadi Rp19.200 per kg, medium II naik 19,24 persen menjadi Rp18.900 per kg, super I naik 20,64 persen menjadi Rp20.750 per kg, dan super II naik 21,19 persen menjadi Rp20.300 per kg.
Dampak pada belanja rumah tangga dan pasokan
Kenaikan juga terjadi pada komoditas cabai, dengan cabai merah besar melonjak 74,1 persen menjadi Rp91.750 per kg dan cabai merah keriting naik 57,94 persen menjadi Rp83.000 per kg. Cabai rawit hijau bertambah 9,4 persen menjadi Rp63.400 per kg, sementara cabai rawit merah naik 46,12 persen menjadi Rp131.000 per kg. Di kelompok protein hewani, daging ayam ras segar naik 17,7 persen menjadi Rp50.200 per kg, daging sapi kualitas I naik 13,76 persen menjadi Rp168.650 per kg, dan daging sapi kualitas II bertambah 15,52 persen menjadi Rp161.150 per kg.
Tekanan berlanjut bagi sektor pangan
Kenaikan serentak di sejumlah komoditas utama menunjukkan tekanan harga tidak hanya terbatas pada satu kelompok pangan. Bagi pelaku distribusi dan perdagangan bahan pokok, kondisi ini dapat memengaruhi arus pasokan serta pola pembelian konsumen dalam jangka pendek. Bagi rumah tangga, lonjakan pada bawang, cabai, beras, dan daging berpotensi menahan penurunan pengeluaran pangan setelah periode Lebaran.
Sebelumnya, lonjakan harga minyak dunia yang menembus USD113 per barel seiring meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Dalam laporan itu, pemerintah menegaskan harga BBM subsidi tetap tidak naik pada Maret 2026, meski tekanan fiskal melalui APBN berpotensi menguat ketika harga minyak global bertahan tinggi.















