PravadaNews – Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan, setiap ancaman atau ultimatum terhadap Iran dianggap sebagai tindakan perang.
Komandan Angkatan Udara Korps IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi menyampaikan, pernyataan tersebut dalam sebuah unggahan di Twitter pada hari Rabu.
Seyyed menekankan, Presiden AS, Donald Trump harus memahami bahwa setiap ancaman atau ultimatum terhadap Iran dianggap sebagai bagian dari tindakan perang.
Awal pekan ini, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik utama Iran dalam waktu 48 jam jika Teheran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz, yang telah ditutup untuk pelayaran yang terkait dengan AS dan Israel serta sekutu mereka.
Baca Juga: USS Abraham Lincoln di Bawah Pengawasan Iran
Iran memperingatkan, semua infrastruktur energi, pusat teknologi informasi (TI), dan pabrik desalinasi yang terkait dengan AS atau rezim Israel di kawasan akan dihancurkan.
Saat tenggat waktu semakin dekat, Trump mengalah dam mengatakan bahwa dirinya telah menginstruksikan Pentagon untuk menghentikan semua rencana serangan selama lima hari, tergantung pada hasil negosiasi yang menurutnya sedang berlangsung dengan Iran. Namun, Teheran dengan tegas menolak klaimnya.
“Serangan pasukan Iran terhadap target strategis di Dimona dan Haifa, Israel, dalam beberapa jam terakhir, yang sesuai dengan strategi militer Iran, menyampaikan pesan yang jelas sebagai tanggapan terhadap ancaman Amerika tentang tenggat waktu dua hari dan lima hari,” Jenderal Mousavi melansir Press TV, dikutip Kamis (26/3/2026).
Komentarnya muncul setelah Teheran menolak proposal 15 poin AS, yang mengusulkan lima syarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan, seperti yang dilaporkan Press TV sebelumnya.
Seorang pejabat senior politik-keamanan yang mengetahui masalah ini, berbicara secara eksklusif kepada Press TV, mengatakan Iran tidak akan membiarkan Trump mendikte waktu berakhirnya perang.
“Iran akan mengakhiri perang ketika memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syaratnya sendiri terpenuhi,” kata pejabat itu, menekankan tekad Teheran untuk melanjutkan pertahanannya dan memberikan “pukulan berat” kepada musuh sampai tuntutannya dipenuhi.
Menurut pejabat itu, Washington telah melakukan negosiasi melalui berbagai saluran diplomatik, mengajukan proposal yang dianggap Teheran sebagai “berlebihan” dan tidak sesuai dengan kenyataan kegagalan Amerika di medan perang.














