Ilustrasi dampak kenaikan harga kedelai (Foto: pravadanews)

Beranda / Ekonomi / Harga Kedelai Tekan Perajin Tahu Tempe

Harga Kedelai Tekan Perajin Tahu Tempe

PravadaNews – Kenaikan harga kedelai impor mulai membayangi para pengrajin tahu dan tempe di Indonesia, seiring meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik yang memengaruhi rantai pasok komoditas pangan dunia.

Meski lonjakan harga belum terjadi secara signifikan, pelaku usaha kecil mulai merasakan dampaknya dan dihadapkan pada ketidakpastian biaya produksi yang berpotensi menekan margin keuntungan mereka.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan perubahan strategi produksi di tingkat pengrajin, mulai dari penyesuaian ukuran produk hingga kemungkinan kenaikan harga jual, guna menjaga keberlangsungan usaha.

Baca juga: RI Cari Solusi Logistik ke Uni Eropa

Di sisi lain, ketergantungan terhadap kedelai impor membuat sektor ini rentan terhadap gejolak pasar internasional, sehingga diperlukan langkah antisipatif baik dari pelaku usaha maupun pemerintah untuk menjaga stabilitas produksi dan daya beli masyarakat.

‘’Sementara harga di Jawa Barat berkisar Rp10.100-Rp10.400 per kg, sementara di Jakarta mencapai Rp10.400-Rp10.700 per kg jadi masih terbilang stabil. Sementara itu, untuk wilayah Sumatra, harga kedelai impor mencapai Rp12.000 per Kg,’’ ujar Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nur Cahyo, dikutip Sabtu (28/3/2026).

Meski terlihat stabil, Wibowo mengingatkan potensi tekanan yang bisa meningkat sewaktu-waktu. Wibowo menilai konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak pada biaya logistik dan nilai tukar dolar.

Di sisi lain, kondisi pasokan kedelai global sebenarnya masih cukup aman. Produksi kedelai Amerika Serikat sedang dalam surplus, bahkan mengalami kelebihan stok. Namun, lonjakan permintaan dari China turut memberikan tekanan tambahan di pasar.

Tercatat, China telah memborong kedelai hingga 2 juta ton, sebagai bagian dari kebutuhan pakan ternak. Meski begitu, langkah tersebut belum mengganggu pasokan global secara signifikan.

Wibowo menambahkan, biasanya pengrajin tahu dan tempe memiliki cara tersendiri untuk bertahan di tengah tekanan harga. Alih-alih menaikkan harga jual, mereka cenderung menyesuaikan ukuran produk.

‘’Strategi yang dilakukan adalah menyesuaikan ukuran atau mengurangi ketebalan misalnya,’’ ujar Wibowo.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *