PravadaNews – Tren pembayaran nontunai di Ibu Kota terus menanjak dalam beberapa tahun terakhir. Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta mencatat, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada 2025 capai 6,1 juta orang, naik 3,87 persen dibandingkan 2024 yang hanya 5,9 juta pengguna.
Dari sisi pelaku usaha, jumlah merchant QRIS juga meningkat 13,90 persen, dari 5,7 juta menjadi 6,5 juta pada 2025. Sebanyak 75,22 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di tengah tren itu, Anggota DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto mendorong pelaku UMKM, khususnya pedagang takjil memperkuat transaksi berbasis digital.
Wahyu menilai perubahan perilaku konsumen yang semakin familiar dengan pembayaran nontunai harus direspons pelaku usaha musiman.
“Secara umum, digitalisasi UMKM sudah menjadi perhatian. Masyarakat sudah mulai terbiasa memanfaatkan sistem transaksi digital. Apalagi, transaksi nontunai semakin lazim dalam aktivitas jual beli sehari-hari,” kata Wahyu dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026).
Wahyu berkata, momentum Ramadan bukan semata soal lonjakan konsumsi, melainkan juga peluang adaptasi terhadap pola perdagangan modern.
Baca Juga: Harga Daging-Telur di Pasar Cibitung Stabil
Politisi Partai Gerindra itu menilai, penguatan transaksi digital dapat membantu pedagang takjil menjangkau lebih banyak pembeli, terutama di kawasan padat menjelang waktu berbuka puasa.
“Dengan penguatan transaksi berbasis digital, pelaku UMKM takjil dapat memanfaatkan Ramadan sebagai peluang untuk berkembang dan beradaptasi dengan pola perdagangan modern,” ujar Wahyu.
Wahyu menekankan, keberadaan UMKM takjil berperan penting menjaga perputaran ekonomi selama bulan puasa. Wahyu melanjutkan, tradisi masyarakat berburu makanan dan minuman manis untuk berbuka menjadi penggerak ekonomi musiman yang signifikan di berbagai wilayah Jakarta.
“Pada dasarnya, hal ini sudah menjadi tradisi. Mudah-mudahan, usaha musiman ini bisa berjalan dengan baik,” kata Wahyu.
Wahyu berharap dukungan perbankan dan otoritas sistem pembayaran terus diperkuat agar pedagang kecil tidak tertinggal dalam arus digitalisasi.
Dengan basis pengguna dan merchant yang terus tumbuh, Wahyu optimistis ekosistem pembayaran digital di Jakarta kian inklusif bagi pelaku UMKM.















