PravadaNews – Dampak eskalasi di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dan Iran seperti kenaikan harga minyak mentah dunia mulai dirasakan negara-negara tetangga RI.
Malaysia, dan Filipina mulai melakukan penyesuaian harga bahan bakar. Tidak hanya Malaysia dan Filipina, kini Thailand melakukan hal yang sama.
Thailand melakukan penyesuaian harga bahan bakar cukup signifikan untuk menekan fiskal akibat subsidi yang membengkak.
Negara dengan sistem monarki konstitusional itu menaikan harga BBM mencapai 6 baht per liter atau sekitar Rp3.000.
Baca Juga: Indonesia Aman dari Darurat Energi
Sehingga, harga BBM meningkat sekitar 14 persen-22 persen. Sementara itu, harga solar juga alami kenaikan yang cukup dratis yakni sekitar 18 persen.
Kebijakan untuk menaikan harga BBM ini karena subsidi alami defisit semakin dalam karena kenaikan minyak mentah dunia.
Selain itu, pasokan BBM di Thailand mulai menipis. Akhirnya, terjadi antrean panjang di sejumlah SPBU.
Secara tidak langsung, kenaikan BBM ini akan berimplikasi terhadap naiknya biaya produksi, transportasi, distribusi yang akhirnya akan meningkatkan tekanan inflasi terutama pada harga pangan dan kebutuhan pokok.
Indonesia Aman dari Darurat Energi
Sementara itu, Indonesia tidak melakukan penyesuaian harga BBM subsidi, meski harga minyak dunia alami kenaikan.
Indonesia diyakini masih dalam kondisi aman dari darurat energi di tengah eskalasi di Timur Tengah akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, Kemenkeu belum memiliki niatan untuk mengubah postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan subsidi energi.
“APBN kita masih tahan. Saya enggak akan ubah APBN atau subsidi yang ada, sampai titik yang mungkin nanti harga minyaknya tinggi sekali,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, dikutip Kamis (26/3/2026).















