PravadaNews – Dampak ekonomi dari perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran akan cukup panjang. Pasalnya, jalan perdamaian sudah buntu.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Hakam Naja meningatkan pemerintah untuk tetap memberikan perhatian khusus terhadap dampak ekonomi nasional akibat perang di Timur Tengah.
“Bahkan sampai pasca Lebaran perlu diantisipasi dengan cermat,” kata Hakam dalam keterangannya kepada PravadaNews, Jumat (20/3/2026).
Hakam mengatakan, selepas Idulfitri pemerintah menyiapkan beberapa langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan harga pangan pasca Idulfitri.
“Pasca Idulfitri ketahanan pangan merupakan hal penting untuk dicermati,” ujar Hakam.
Baca Juga: Harga Ayam di Jakarta Rp40.500 per Kg
Selat Hormuz yang ditutup dan dikelilingi oleh negara-negara eksportir utama pupuk nitrogen seperti Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Penutupan tersebut akan memberikan dampat terhadap pupuk nitrogen. Sebab, pupuk nitrogen diproduksi dari bahan dasar gas alam dan digunakan untuk tanaman pangan yang berkontribusi pada sekitar setengah suplai pangan global.
“Kenaikan harga pangan dunia bisa terjadi jika krisis perang di Timur Tengah ini tidak segera berakhir,” ujar Hakam.
Hakam mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi dan memitigasi gejolak yang bisa mengganggu program ketahanan pangan nasional ini.
“Mengingat beberapa komoditas pangan dalam jumlah relatif besar masih kita impor dari luar negeri seperti gandum, kedelai dan gula,” pungkas Hakam.















