Arsip foto - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi. ANTARA/Yogi Rachman/aa.

Beranda / Politik / Hasan Nasbi Kritik Narasi Provokatif

Hasan Nasbi Kritik Narasi Provokatif

PravadaNews – Mantan Kepala Kantor Kepresidenan Hasan Nasbi mengingatkan bahaya pernyataan bernada provokatif terhadap pemerintah di tengah situasi global yang dinilainya tidak stabil. Ia menilai, narasi yang memanaskan suasana domestik justru berpotensi melemahkan daya tahan nasional.

Hasan menyoroti meningkatnya tensi global baik dari sisi ekonomi, keamanan, hingga perubahan iklim—yang menurutnya menuntut konsolidasi internal.

“Ketika situasi ekonomi dunia kacau balau, situasi keamanan dunia juga sedang tidak baik-baik saja, cuaca panas di luar, ada banyak pertengkaran di luar negeri. Tapi, di dalam negeri, orang-orang yang mengaku pejuang demokrasi ini juga memanas-manasi suasana,” kata Hasan dikutip Senin (5/4/2026)

Baca juga : Prabowo Beri Penghormatan Kepada Tiga Prajurit TNI Gugur

Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas sikap seorang pimpinan lembaga survei yang dinilai melontarkan pernyataan provokatif terhadap pemerintah. Hasan menyebut narasi tersebut tidak mencerminkan semangat demokrasi karena mendorong delegitimasi kekuasaan tanpa mekanisme konstitusional.

Menurut dia, pergantian kekuasaan dalam sistem demokrasi telah difasilitasi melalui pemilihan umum, termasuk dalam Pemilu 2024. Karena itu, upaya menjatuhkan pemerintahan di luar jalur tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip demokrasi.

“Mereka itu mengakunya pejuang demokrasi, tapi enggak pernah mau paham apa esensi demokrasi. Kalau perebutan kekuasaan dalam demokrasi itu difasilitasi kok lewat pemilu,” ujarnya.

Hasan juga menyinggung ironi bahwa pernyataan tersebut datang dari kalangan akademik yang semestinya menjunjung tinggi nilai demokrasi. Ia menilai, sikap tersebut menunjukkan ketidakkonsistenan dalam menghormati sistem yang sama-sama dijalani.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap merupakan bagian sah dalam demokrasi. Namun, ia membedakan antara kritik konstruktif dan provokasi yang mendorong ketidakstabilan politik.

“Kalau pemerintah tidak melakukan pelanggaran, tidak menabrak konstitusi, tapi Anda ingin mengajak masyarakat untuk menjatuhkan presiden karena perasaan Anda tidak terpenuhi, itu sesuatu hal yang tidak bisa diterima,” kata Hasan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *