Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: PravadaNews)

Beranda / Bisnis / IHSG Berpotensi Menguat Usai Libur Panjang

IHSG Berpotensi Menguat Usai Libur Panjang

PravadaNews – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (25/3/2026) diproyeksikan cenderung menguat terbatas setelah jeda panjang libur Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026. Namun, dinamika geopolitik global diperkirakan masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pasar.

Ekonom keuangan dan praktisi pasar modal Hans Kwee menilai, meski ada potensi tekanan jual pada awal perdagangan, pasar memiliki peluang untuk pulih seiring meredanya sementara ketegangan di Timur Tengah.

“Pembukaan IHSG di hari Rabu dibayangi potensi tekanan jual, tetapi pulihnya pasar keuangan pasca penundaan serangan Trump ke infrastruktur listrik dan energi Iran, membuka peluang IHSG bergerak terbatas dengan support di level 7.100 sampai 7.000 dan resistance di level 7.250 sampai 7.349,” ujar Hans, Selasa (24/3).

Baca juga: IHSG Melemah Terdorong Konflik AS-Iran

Menurut dia, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menunda serangan militer terhadap fasilitas energi Iran menjadi sentimen positif jangka pendek bagi pasar keuangan global. Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi setelah Iran justru melancarkan serangan lanjutan ke Israel dan sejumlah titik di kawasan.

Selama periode libur Lebaran, volatilitas pasar global meningkat tajam. Hans menjelaskan, kondisi ini dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang turut mengguncang stabilitas harga energi dunia.

“Pasar ekuitas Uni Eropa menguat setelah penundaan serangan Trump. Kawasan Uni Eropa dan Asia sangat terpengaruh harga energi, karena ketergantungan pada impor melalui Selat Hormuz,” kata Hans.

Ia menambahkan, risiko terhadap pasokan energi global masih besar, terutama setelah serangan Iran ke fasilitas gas di Qatar. Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu ekspor gas alam cair dalam jangka panjang.

“Artinya perang ini akan punya dampak yang cukup panjang untuk pasokan minyak dan gas dunia,” sambung Hans.

Dari sisi kebijakan moneter, Hans melihat bank sentral Amerika Serikat, The Fed, berpotensi mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang 2026. Proyeksi ini berubah dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan adanya penurunan suku bunga.

“Dan masih ada peluang kenaikan 25 bps pada bulan Desember (2026),”sebut Hans.

Dalam pertemuan terakhir Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19 Maret, The Fed memang memutuskan menahan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen.

Sementara itu, sentimen positif dari pasar global turut terlihat pada pergerakan bursa utama. Bursa saham Eropa dan Amerika Serikat kompak menguat, begitu pula mayoritas indeks di kawasan Asia yang ditutup di zona hijau.

Adapun sebelum libur panjang, IHSG telah lebih dulu mencatatkan penguatan sebesar 1,20 persen ke posisi 7.106,84. Capaian tersebut menjadi modal awal bagi indeks untuk melanjutkan tren positif, meski dibayangi ketidakpastian eksternal yang belum sepenuhnya mereda.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *