PravadaNews– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan Indonesia tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan Timur Tengah.
Menurut Bahlil, impor dari kawasan tersebut hanya berupa minyak mentah yang porsinya sekitar 20 persen dari total impor nasional.
Bahlil mengatakan sumber impor energi Indonesia berasal dari berbagai kawasan, tidak terpusat di Timur Tengah. Bahlil menegaskan pasokan BBM yang diimpor pemerintah justru berasal dari negara lain di Afrika, Amerika Selatan, hingga Asia Tenggara.
“Jadi, minyak mentahnya itu 20 persen memang dari Middle East. Sisanya kita dapat dari Angola, Nigeria, Brasil kemudian sebagian Amerika, sebagian dari Malaysia,” kata Bahlil di Jakarta dikutip Sabtu (14/3/2026).
Baca juga: Bahlil Pastikan Indonesia Tidak Tambah Kuota Impor Energi dari AS
Bahlil menuturkan, impor BBM yang masih dilakukan Indonesia saat ini hanya untuk jenis bensin. Bahlil menyebut pasokan tersebut terutama didatangkan dari Malaysia dan Singapura.
“Bensin ini kita impor sebagian dari Malaysia, sebagian dari Singapura. Nah, ke depan memang tidak ada cara lain, kita harus mengembangkan refinery kita, kilang-kilang kita untuk kita produksi dalam negeri,” ujar Bahlil.
Bahlil juga melaporkan kebutuhan solar dalam negeri kini telah dapat dipenuhi dari produksi domestik. Hal itu, kata Bahlil, didukung program pencampuran biodiesel serta beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan.
Bahlil memastikan cadangan energi nasional dalam kondisi aman menjelang masa libur hari raya. Bahlil mengatakan stok berbagai jenis BBM berada di atas batas minimal cadangan yang telah ditetapkan pemerintah.
Menurut Bahlil, cadangan bensin nonsubsidi jenis Pertamax dengan RON 92 saat ini mencapai sekitar 28 hari, lebih tinggi dibanding batas minimal 11 hari.
“Untuk bensin dengan oktan lebih tinggi seperti Pertamax Turbo, cadangannya sekitar 31 hari,” imbuh Bahlil.
Adapun cadangan solar subsidi tercatat sekitar 16,41 hari, sementara solar nonsubsidi mencapai sekitar 46 hari.
Bahlil menilai kondisi tersebut menunjukkan ketahanan pasokan energi nasional tetap terjaga sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM dan elpiji dalam waktu dekat.















