Ilustrasi kilang minyak di teluk. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Mancanegara / Iran Targetkan Infrastruktur Energi dan Pangkalan Militer AS

Iran Targetkan Infrastruktur Energi dan Pangkalan Militer AS

PravadaNews – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan gelombang baru serangan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk.

Dikutip dari Albawaba News pada Minggu (8/3/2026), serangan tersebut menargetkan infrastruktur energi serta fasilitas militer Amerika Serikat sebagai bagian dari aksi balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap kepemimpinan Iran sebelumnya.

Salah satu serangan dilaporkan terjadi di Bahrain, tepatnya di kilang minyak milik Bapco Energies. Menurut laporan dari National Contact Center Bahrain, serangan tersebut memicu kebakaran terbatas pada salah satu unit pemrosesan di kilang tersebut.

Otoritas setempat menyatakan api berhasil dipadamkan dengan cepat dan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut. Operasional kilang dilaporkan tetap berjalan normal, meskipun pihak berwenang masih melakukan penilaian menyeluruh terhadap kerusakan yang mungkin terjadi.

Baca juga: Perang Iran Ancam Pasokan Energi Dunia | Pravada News

Ledakan juga dilaporkan terjadi di dekat markas United States Fifth Fleet di kota Manama. Asap terlihat membumbung dari beberapa struktur bangunan yang mengalami kerusakan. Insiden ini memunculkan kekhawatiran baru mengenai kerentanan sistem pertahanan udara di kawasan Teluk.

Serangan juga menyasar Uni Emirat Arab. Sejumlah rudal Iran dilaporkan menargetkan kilang minyak di Abu Dhabi, yang memicu ledakan serta asap tebal di area Pelabuhan Jebel Ali dekat fasilitas penyimpanan kondensat.

Selain itu, Teheran juga mengklaim telah menyerang Pangkalan Militer Sheikh Zayed yang diketahui menampung personel militer Amerika. Otoritas Emirat menyatakan beberapa proyektil berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, meskipun puing-puing yang jatuh sempat menyebabkan gangguan kecil di beberapa area.

Serangan tersebut merupakan bagian dari kampanye balasan Iran yang dinamai “Operation True Promise 4.” Operasi ini dilancarkan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta lebih dari 40 pejabat tinggi Iran lainnya.

Serangan sebelumnya disebut menargetkan infrastruktur nuklir dan militer Iran dengan tujuan melemahkan kemampuan strategis negara tersebut.

Sejak insiden itu, Iran dilaporkan terus menargetkan fasilitas militer Amerika di berbagai negara kawasan Teluk, termasuk di Qatar, Kuwait, dan Oman. Infrastruktur energi di Arab Saudi dan Qatar juga dilaporkan mengalami gangguan akibat meningkatnya serangan.

Situasi ini turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga melampaui 90 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran akan terjadinya guncangan pasokan energi dunia.

Negara-negara Teluk mengecam keras serangan tersebut dan menegaskan hak mereka untuk mempertahankan diri. Sementara itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tengah membahas langkah-langkah darurat untuk menghentikan eskalasi kekerasan yang terus meningkat.

Dengan begitu, serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas serta mengganggu stabilitas pasar energi global, terutama jika upaya diplomatik gagal meredakan krisis yang sedang berkembang.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *