PravadaNews – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menekankan pentingnya penyelesaian akar konflik dalam menangani persoalan kemanusiaan, alih-alih hanya berfokus pada dampak yang ditimbulkan.
Dalam kuliah umum di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Selasa, Kalla menyebut konflik dan bencana alam sebagai dua sumber utama krisis kemanusiaan saat ini.
“Konflik terjadi di berbagai belahan dunia seperti Ukraina, Timur Tengah, hingga di dalam negeri seperti Papua. Selain itu, bencana alam seperti banjir, gempa, dan tsunami juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar,” ujarnya sebagaimana keterangan tertulis dikutip Rabu (8/4/2026).
Baca juga : Pukat UGM Usul Bentuk Lembaga Rampasan Aset di Bawah Presiden
Menurut Kalla, konflik kemanusiaan kerap dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ideologi, perebutan wilayah, kepentingan politik, hingga sumber daya alam. Ia menilai, penanganan yang hanya berfokus pada pengungsi tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
“Kalau konfliknya selesai, masalah kemanusiaannya juga ikut selesai. Itu lebih cepat dan lebih efektif dibanding hanya mengurus dampaknya,” kata dia.
Kalla juga mengingat pengalamannya menangani konflik di dalam negeri pada awal 2000-an, seperti di Poso, Ambon, dan Aceh, yang saat itu menyebabkan sekitar 1,5 juta orang mengungsi.
Dia menekankan pentingnya pendekatan rasional dan pemahaman terhadap akar masalah dalam menyelesaikan konflik, termasuk yang berbasis agama.
“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan membunuh orang lain tanpa alasan. Pendekatan ini yang kami gunakan dalam menyelesaikan konflik di Poso dan Ambon,” ucapnya.
Selain konflik, Kalla menyoroti penanganan bencana alam yang menurutnya membutuhkan keterlibatan luas masyarakat melalui semangat gotong royong.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu menyebut kepercayaan publik sebagai modal utama dalam menggerakkan aksi kemanusiaan, termasuk dalam penghimpunan dana dan partisipasi relawan.
“Contohnya dana PMI berasal dari masyarakat. Mereka percaya bahwa bantuan yang diberikan akan disalurkan dengan baik,” ujarnya.
Saat ini, PMI didukung sekitar 1,5 juta relawan dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga tenaga medis.
Kalla juga mendorong peran perguruan tinggi untuk terlibat dalam upaya pencegahan bencana melalui riset yang berdampak langsung.
“Di sini kita berharap kampus bisa membuat penelitian yang langsung berdampak terhadap upaya menghindari bencana alam, termasuk bagaimana cara agar alam jangan rusak,” kata dia.















