PravadaNews – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menekankan faktor manusia dan kondisi cuaca sebagai titik rawan keselamatan pada puncak arus balik Lebaran 1447 Hijriah. Operator transportasi diminta tidak hanya memastikan kelayakan armada, tetapi juga kondisi fisik pengemudi.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan mengatakan kelalaian pengemudi masih menjadi penyebab dominan kecelakaan lalu lintas, terutama akibat kelelahan dan pelanggaran aturan.
“Sebagian besar kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kelalaian pengemudi di antaranya kelelahan atau melanggar aturan,” kata Aan dalam keterangan tertulisnya Selasa (24/3/2026).
Menurut Aan, lonjakan volume kendaraan saat arus balik memperbesar risiko tersebut. Karena itu, pengawasan terhadap kesehatan awak kendaraan dinilai sama pentingnya dengan pemeriksaan teknis armada.
“Setiap operator wajib memastikan awak kendaraan seperti pengemudi dan kru dalam kondisi sehat dan tidak boleh sakit,” ujar Aan.
Selain faktor manusia, kata Aan, Kemenhub juga menggarisbawahi ancaman cuaca ekstrem. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, sejumlah wilayah berpotensi dilanda hujan lebat hingga angin kencang dalam beberapa hari ke depan, termasuk sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Aan menyebut kondisi tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan gelombang tinggi.
“Ini menjadi perhatian penting di sektor transportasi agar lebih waspada dalam menjalankan operasional kendaraan,” ucap Aan.
Lebih lanjut, Aan mengungkapkan, Kemenhub meminta operator bus dan penyeberangan melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum armada dioperasikan.
Di sisi lain, lanjut Aan, masyarakat diimbau aktif memantau informasi cuaca dan menyesuaikan perjalanan selama periode arus balik.
“Kami berharap semua pihak dapat turut serta memantau kondisi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan,” pungkas Aan.















