Ilustrasi Kenaikan Harga BBM Non Subsidi. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Tekan Daya Beli 

Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Tekan Daya Beli 

PravadaNews – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi akan menimbulkan efek domino bagi ekonomi masyarakat, khususnya kelas menengah. Kenaikan harga BBM imbas dari gangguan distribusi minyak mentah dunia akibat perang di Timur Tengah.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, kenaikan harga BBM non subsidi tidak hanya dirasakan oleh 142 juta orang di Indonesia yang masuk ke dalam kategori kelas menengah namun juga dirasakan masyarakat bawah.

Menurut Bhima, wacana kenaikan BBM non subsidi akan berujung pada pembatasan pembelian BBM subsidi. Kebijakan pembatasan tersebut diprediksi akan diterapkan oleh pemerintah.

“Khawatir kenaikan harga BBM non subsidi dan kebijakan pembatasan BBM subsidi itu menekan daya beli, meningkatkan jumlah orang miskin baru, dan mendorong PHK di sektor UMKM,” ungkap Bhima kepada PravadaNews, pada Selasa (31/3/2026).

Baca Juga: Pertamina Bantah Harga BBM Pertamax Naik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka jumlah kelas menengah di Indonesia menurun signifikan, dari 57,33 juta orang (21,45 persen) pada 2019 menjadi 47,85 juta orang (17,13 persen) pada 2024.

Bhima menilai, wacana kenaikan harga BBM non subsidi diprediksi akan berimbas ke sejumlah sektor diantaranya sektor energi, pangan bahkan biaya logistik.

“Memang ada kelas menengah yang memakai BBM subsidi, tapi ini fakta bahwa kelas menengah sendiri turun satu juta orang pada 2025 dibanding tahun sebelumnya,” kata Bhima.

Bhima mengatakan, pemerintah perlu mencari negara lain untuk impor BBM. Sebab, negara di Asia Timur telah membatasi pembelian minyak.

“Saudi membatasi penjualan minyak ke Asia, sementara Yaman menutup Selat Bab-el Mandeb. Ini makin mengganggu pasokan BBM (Indonesia),” jelas Bhima.

Harga minyak mentah global yang terus naik mendorong kebutuhan subsidi energi melonjak tajam, dengan jumlah estimasi tambahan beban mencapai Rp126 hingga Rp130 triliun.

Bhima memprediksi, pemerintah dalam waktu dekat ini akan membuat arah kebijakan baru terkait energi nasional yang bertumpu pada kombinasi kenaikan harga dan pembatasan distribusi.

“Transmisi kenaikan harga BBM akan terasa di pertengahan April. Inflasi energinya bakal tinggi, disusul inflasi pangan karena naiknya beban biaya logistik. Pasokan mulai terbatas secara global,” tandas Bhima.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *