PravadaNews – Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal pada 2026. Salah satu upaya yang didorong adalah penggunaan varietas padi adaptif yang mampu bertahan pada kondisi kekurangan air.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah mitigasi sejak dini untuk mencegah dampak kekeringan terhadap produksi pangan.
“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Amran di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Baca juga : Upaya Kementan Stabilkan Harga Cabai
Amran juga menginstruksikan seluruh pemerintah daerah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta memperkuat sistem peringatan dini guna mengurangi risiko gagal panen.
Selain penggunaan varietas adaptif, kata Amran, Kementan juga mendorong optimalisasi pengelolaan sumber daya air di sektor pertanian. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan irigasi, pompanisasi, perpipaan, hingga percepatan masa tanam di berbagai sentra produksi padi.
Langkah ini diambil seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyebutkan awal musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi terjadi lebih cepat dari biasanya.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih awal antara lain sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.
“Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian jika tidak diantisipasi sejak dini,” sebut Amran.
Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry menjelaskan pihaknya telah mengembangkan berbagai varietas unggul yang mampu beradaptasi terhadap kondisi kekeringan.
Menurut Fadjry, varietas tersebut dirancang agar tetap mampu menghasilkan produksi meskipun ketersediaan air terbatas, sekaligus memiliki umur panen yang relatif singkat.
Fadjry mencontohkan varietas padi tahan cekaman kekeringan seperti Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas padi gogo kelompok Inpago yang tetap mampu berproduksi pada kondisi lahan dengan pasokan air terbatas.
“Selain itu, terdapat pula varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana yang dapat dipanen lebih cepat sehingga membantu tanaman menghindari periode kekeringan,” ujar Fadjry.
Fadjry menambahkan, pemanfaatan varietas adaptif menjadi bagian dari strategi teknologi untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi di tengah perubahan iklim.
“Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, khususnya di wilayah rawan kekeringan atau sawah tadah hujan, sehingga produksi padi nasional tetap terjaga dan ketahanan pangan dapat terus diperkuat,” kata Fadjry.
Melalui BRMP, Kementan juga terus memperkuat penerapan inovasi teknologi di sektor pertanian, termasuk pengembangan varietas unggul adaptif serta penerapan teknik budidaya yang sesuai di tingkat petani guna menghadapi dinamika perubahan iklim.















