PravadaNews – Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai harga minyak dunia masih memiliki potensi melonjak hingga menembus 130 dolar Amerika Serikat per barel apabila eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin memanas.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai dapat mengganggu pasokan energi global, terutama karena wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi minyak terbesar di dunia.
Menurut Yayan, pergerakan harga minyak saat ini masih dipengaruhi oleh kebijakan pelepasan cadangan minyak oleh Amerika Serikat yang sempat menahan kenaikan harga. Namun, langkah tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara.
Baca juga: Iran Tolak Gencatan Senjata | Pravada News
Jika konflik militer terus meluas dan mengganggu jalur distribusi minyak internasional, maka tekanan terhadap pasokan global akan semakin besar sehingga harga minyak berpotensi melonjak tajam hingga mencapai 130 dolar AS per barel.
Yayan menambahkan, kondisi geopolitik yang tidak stabil dapat memicu kepanikan pasar energi dunia. Situasi ini berpotensi meningkatkan volatilitas harga minyak sekaligus memberikan dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari pasar internasional.
“Ini (penurunan harga minyak) disebabkan oleh AS mengeluarkan pasokan minyak. Lumayan besar sehingga harganya turun, tetapi ini sementara,” ujar Yayan dikutip Rabu (11/3/2026).
Diberitakan oleh Sputnik (9/3), harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai 118 dolar AS per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022. Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dolar AS per barel.
Kemudian, pada Selasa (10/3), harga minyak dunia terjun ke level 80–85 dolar AS per barel setelah para menteri energi dari kelompok G7 membahas kemungkinan melepas cadangan minyak secara terkoordinasi di tengah lonjakan harga minyak, sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.
Turunnya harga minyak juga seiring dengan potensi berakhirnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan operasi militer terhadap Iran sudah “very complete”.
Meskipun demikian, Iran menyatakan tidak akan menyetujui gencatan senjata sampai pihak yang menyerang diberi pelajaran agar mereka tidak lagi berpikir untuk mengulangi tindakan militer terhadap Teheran, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Selasa.
Ketegangan inilah yang diyakini oleh Yayan dapat menyebabkan harga minyak dunia kembali naik, bahkan bisa menyentuh 130 dolar AS per barel.
“Jadi, penurunan harga minyak hanya untuk sementara saja. Sekarang justru eskalasinya lebih tinggi, karena Trump akan mengirim pasukan darat (ground troops) ke Iran,” ucap Yayan.
Apabila Amerika Serikat mengirim pasukan darat ke Iran, Yayan menyampaikan kerusakan infrastruktur dan jaringan rantai pasok akan terhenti tanpa waktu yang tidak bisa diperkirakan.
Pengerahan pasukan darat, menurut Yayan, akan memunculkan dampak yang lebih besar dan Amerika Serikat akan berambisi untuk menduduki Iran lebih dari satu tahun.
“Seperti kasus Irak, Afghanistan, karena AS tidak ingin rugi. Kalau hanya 1–2 tahun, mereka nggak balik modal,” ucap Yayan.
Berdasarkan analisis Yayan, Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk menggeser pasar minyak Timur Tengah ke Amerika Serikat, kurang lebih sebesar 20 persen. Tujuan dari pergeseran itu adalah menekan harga minyak pada pertengahan atau akhir tahun 2026.
Ambisi itu juga terlihat ketika Amerika Serikat menyerang Venezuela pada awal 2026.
Harga minyak dunia yang lebih rendah, tutur Yayan, dapat menyebabkan biaya rantai pasok AS menjadi lebih murah dan lebih efisien.















