Ilustrasi tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dok. Gramedia

Beranda / Bisnis / Pergerakan IHSG Pekan Ini Tunjukkan Pemulihan

Pergerakan IHSG Pekan Ini Tunjukkan Pemulihan

PravadaNews – Awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukan pemulihan usai sempat melemah cukup signifikan. Fenomena itu muncul menyusul adanya interim freeze rebalancing dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai, investor harus tetap selektif dalam menentukan pilihan investasinya.

Rully mengatakan, kepastian lebih lanjut mengenai tren pemulihan saham IHSG juga dipengaruhi atas arah kebijakan moneter global.

“Namun Demikian, kami melihat investor akan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global,” ungkap Rully, dikutip pada Rabu (18/2/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG selama sepekan periode 9–13 Februari 2026 menguat 3,49 persen dan ditutup di level 8.212,271 dari posisi 7.935,260 pada pekan sebelumnya.

Rata-rata frekuensi terkait transaksi harian juga naik tipis dari 0,37 persen menjadi 2,74 juta kali transaksi, dari 2,73 juta transaksi pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: Tambahan Anggaran TKD untuk Pulihkan Sumatera

Rully mengatakan, penguatan IHSG sejauh ini masih relatif belum menunjukan pemulihan kepercayaan terhadap kredibilitas dan tranparansi saham Indonesia.

Salah satu contohnya, menurut Rully, dapat dilihat dari cerminan berlanjutnya aksi jual bersih para investor asing, terutama dalam model saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Rully menilai sebelum adanya pengumuman keputusan final mengenai status pasar saham Indonesia yang di keluarkan MSCI, risiko volatilitas nilai IHSG masih cukup tinggi terutama dengan adanya potensi berlanjutnya tekanan jual investor asing.

Sementara berdasarkan data BEI menunjukkan investor asing telah mencatatkan jual bersih Rp2,03 triliun hingga akhir pekan lalu. Masih dari data yang sama, secara akumulatif sejak awal 2026, tren nilai jual bersih asing telah mencapai Rp16,49 triliun.

Sementara itu, Rully memprediksi arah IHSG dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif imbas dari ketidakpastian keputusan MSCI.

Baca Juga: Kemendag Gelar Pasar Murah Tanpa APBN

Sentimen eksternal dan dinamika arus modal global seperti prospek penurunan suku bunga dari Federal Reserve serta pergerakan harga komoditas global juga dapat mempengaruhi naik turunnya arah IHSG.

Meski begitu, peluang arah penguatan masih tetap terbuka dalam sisi domestik jika kebijakan pemerintah pusat dan legislatif mampu menghasilkan komitmen terhadap peningkatan likuiditas pasar dan tata kelola yang baik.

Rully menambahkan, keputusan pemerintah yang mampu menjaga stabilitas makroekonomi, inflasi rendah serta kebijakan penurunan suku bunga pada Bank Indonesia (BI) dinilai dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan saham domestik.

“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi, kredibilitas, serta tingkat investabilitas pasar,” pungkas Rully. (GIB)

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *