PravadaNews – PT Pertamina (Persero) menanggapi kabar di media sosial yang menginformasikan bahwa akan terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) series Pertamax.
Pertamina menyatakan belum ada pengumuman resmi terkait kenaikan BBM non-subsidi.
Pernyatan itu disampaikan Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026), melansir Antara.
“Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026,” kata Baron.
Baron mengimbau masyarakat mengecek lansung informasi di situs resmi milik PT Pertamina yakni www.pertamina.com.
Baca Juga: Ekonom Ramal BBM Subsidi Naik 15 Persen
Baron mendorong agar masyarakat bijak dalam menggunakan BBM. Hal itu dilakukan sebagai bagian mendukung penghematan energi.
Lebih lanjut Baron kembali menegaskan bahwa informasi kenaikan BBM yang beredar di media sosial tidak benar.
“Dengan demikian, informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan,” kata Baron.
Pernyataan tersebut menanggapi perkiraan harga jual eceran BBM nonsubsidi untuk April 2026 yang beredar di media sosial.
Dalam informasi yang beredar, disebutkan harga jual BBM jenis Pertamax akan menjadi Rp17.850 per liter atau naik Rp5.550 per liter dari harga jual semula pada Maret 2026 yang senilai Rp12.300 per liter.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang melemah dari Rp16.819 per 1 dolar AS menjadi Rp16.877 per 1 dolar AS.
Masih pada informasi yang sama, kenaikan harga Pertamax (RON 92) juga dipengaruhi oleh lonjakan harga indeks pasar (HIP) BBM RON 92 sebesar 62,44 persen atau 46,15 dolar AS per barel, dari 73,91 dolar AS per barel menjadi 120 dolar AS per barel; atau naik 62,99 persen (sekitar Rp4.925 per liter) dari Rp7.818 per liter menjadi Rp12.744 per liter.
Kenaikan harga jual juga diperkirakan akan terjadi untuk produk bensin lainnya, seperti Pertamax Green 95 (dari Rp12.900 per liter, naik menjadi Rp19.150 per liter), Pertamax Turbo (dari Rp13.100 per liter naik menjadi Rp19.450 per liter).
Selanjutnya, untuk BBM jenis solar, yakni Pertamina Dex juga diperkirakan akan mengalami kenaikan dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.950 per liter; serta Dexlite naik dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.650 per liter.
Ekonom Ramal BBM Non-Subsidi Naik Awal April
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi akan alami kenaikan.
Kenaikan BBM non-subsidi itu, kata Bhima, karena besarnya kompensasi yang harus dibayarkan pemerintah kepada PT Pertamina.
“Kenanikan BBM non-subsidi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan,” kata Bhima kepada PravadaNews, Senin (30/3/2026).
“APBN tanpa ada realokasi belanja yang besar tidak bisa menanggung selisih harga keekonomian atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding,” tambah Bhima.
Bhima mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi bukan kali pertama terjadi. Kata Bhima, dengan harga minyak persisten di 90-115 dolar Amerika Serikat per barel, akan mempengaruhi harga BBM non-subsidi.
“Ke depan paling berisiko harga BBM subsidi yang giliran disesuaikan,” kata Bhima.
Bhima menambahkan, kenaikan harga BBM subsidi akan berdampak pada naiknya harga bahan pokok.
“Transmisinya dari BBM kemana-mana termasuk ke inflasi pangan. Inflasi bisa tembus 6-7 persen di bulan April,” pungkas Bhima.














