PravadaNews– Kepolisian Negara Republik Indonesia bersama Perum Bulog menggelar Gerakan Pangan Murah secara serentak di berbagai daerah untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di 36 kepolisian daerah dan sekitar 500 kepolisian resor di seluruh Indonesia. Pusat kegiatan nasional dipusatkan di wilayah Polda Metro Jaya.
Wakil Kepala Kepolisian RI Komjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan program itu merupakan bentuk komitmen Polri bersama pemerintah agar masyarakat tetap dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
“Pada pagi hari ini, Polri bersama Direktur Utama Bulog dan kementerian terkait melaksanakan kegiatan Gerakan Pangan Murah secara serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di 36 Polda dan sekitar 500 Polres,” kata Dedi kepada awak media dikutip Sabtu (14/3/2026).
Baca juga: Kapolri Ajak Buruh Bersatu Dukung Upaya Presiden
Dalam kegiatan tersebut, kata Dedi, Polri menyalurkan sekitar 1.337.375 kilogram atau sekitar 1.337 ton beras kepada masyarakat di berbagai daerah. Selain beras, masyarakat juga dapat membeli komoditas lain seperti gula, minyak goreng, tepung, serta sejumlah kebutuhan pokok lainnya.
Menurut Dedi, program tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa stok pangan nasional berada dalam kondisi aman.
“Perlu kami informasikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa stok pangan nasional berada dalam kondisi aman. Artinya masyarakat tidak perlu panik, karena ketersediaan stok pangan nasional masih sangat mencukupi,” ujar Dedi.
Dedi mengungkapkan, pada 2026 Polri memperoleh alokasi sekitar 80 ribu ton beras dari Bulog yang akan didistribusikan kepada masyarakat melalui berbagai program pangan.
“Kami akan terus berkoordinasi dan bersinergi dengan Bulog untuk mendistribusikan pangan kepada masyarakat. Kami menjamin bahwa ketersediaan pangan cukup dan stabilitas harga tetap terjaga sehingga semuanya dapat terjangkau oleh masyarakat,” kata Dedi.
Di wilayah Polda Metro Jaya, kegiatan tersebut menyasar sekitar 3.000 penerima manfaat yang terdiri atas buruh, pengemudi ojek daring, masyarakat umum, organisasi kemasyarakatan, hingga unsur keamanan lingkungan seperti Linmas dan Pokdar Kamtibmas.
Selain penyaluran bahan pangan, lanjut Dedi, Polri juga menggelar bakti kesehatan yang memberikan layanan kepada sekitar 3.000 warga.
Dedi mengatakan Gerakan Pangan Murah tidak hanya digelar menjelang Idul Fitri, tetapi akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan hingga akhir 2026.
“Program ini tidak hanya dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri, tetapi akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan hingga Desember 2026,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara Bulog dan Polri dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada jajaran Polri yang luar biasa dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah,” kata Rizal.
Menurut Rizal, kegiatan serupa sebelumnya telah dilaksanakan pada 2025 dan kembali digelar tahun ini untuk membantu masyarakat menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang Idul Fitri. Program tersebut juga melibatkan berbagai pihak, termasuk TNI dan kementerian terkait, guna mengantisipasi potensi panic buying di masyarakat.
“Tujuannya tidak lain untuk mengantisipasi panic buying di masyarakat,” ujar Rizal.
Rizal memastikan kondisi stok beras nasional saat ini berada pada level yang sangat aman. Hingga pertengahan Maret 2026, stok beras tercatat sekitar 3,9 juta ton.
“Ini merupakan stok tertinggi di bulan Maret sepanjang sejarah Indonesia merdeka,” kata Rizal.
Adapun Bulog memperkirakan pada akhir Maret 2026 stok beras nasional dapat meningkat menjadi sekitar 4,2 hingga 4,3 juta ton. Dengan target serapan Bulog sebesar 4 juta ton pada tahun ini, total stok beras nasional diproyeksikan dapat melampaui 5 juta ton pada akhir tahun.
Pemerintah, Bulog, dan Polri optimistis kondisi tersebut dapat menjaga stabilitas pangan nasional hingga akhir 2026 serta memastikan masyarakat menyambut Idul Fitri tanpa kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan pokok.















