PravadaNews – Pemerintah Indonesia menjadikan isu logistik sebagai fokus utama dalam memperkuat kerja sama perdagangan dengan Uni Eropa, seiring meningkatnya tantangan global akibat ketegangan geopolitik dan lonjakan biaya energi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, pembahasan terkait logistik menjadi agenda penting dalam pertemuan delegasi Indonesia dengan pihak Uni Eropa di sela forum World Trade Organization.
Menurut Budi, pemerintah ingin memastikan implementasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa atau I-EU CEPA tidak terhambat oleh persoalan teknis di lapangan, khususnya distribusi barang lintas negara.
Baca juga: Intervensi Armada Logistik untuk Desa Tertinggal
“Saya minta ke delegasi kita untuk bertemu dengan tim dari Uni Eropa untuk membahas nanti implementasi Uni Eropa-nya seperti apa dengan kondisi sekarang, salah satunya sebenarnya yang dibahas adalah terkait logistik,” ujar Budi di jakarta, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Budi menekankan, perubahan jalur pelayaran global serta meningkatnya ongkos transportasi menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi sejak dini. Tanpa kesiapan logistik yang memadai, arus ekspor-impor dikhawatirkan tidak berjalan optimal ketika kerja sama mulai diimplementasikan secara penuh.
“Kita akan mencari solusi logistik yang paling efisien ketika terjadi ekspor-impor ke negara Uni Eropa, jangan sampai nanti ketika implementasi I-EU CEPA, itu menjadi terhambat,” tambah Budi.
Di sisi lain, pemerintah melihat situasi global yang penuh ketidakpastian sebagai peluang untuk melakukan pembenahan sistem logistik nasional. Reformasi akan difokuskan pada penyederhanaan regulasi, peningkatan efisiensi pelabuhan, serta percepatan proses ekspor.
Langkah ini juga melibatkan kolaborasi dengan pelaku industri logistik untuk menghapus berbagai hambatan yang selama ini mengganggu kelancaran distribusi barang ke pasar internasional.
Pemerintah optimistis, dengan sistem logistik yang lebih efisien dan terintegrasi, daya saing produk Indonesia di pasar Eropa akan meningkat. Selain itu, akses pasar yang lebih luas diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekspor nasional secara berkelanjutan.
“Itu salah satu kesempatan buat kita untuk membenahi itu baik dari sisi di regulasi maupun kebijakan yang lainnya. Ini sedang kita lakukan bareng-bareng dengan Depalindo menghilangkan hambatan-hambatan yang itu menjadi penghambat untuk mempermudah ekspor kita,” lanjut Budi.















