PravadaNews – Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai percepatan transformasi transportasi publik berbasis listrik menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
“Perlu adanya langkah-langkah krusial yang perlu diambil pemerintah Indonesia, pertama percepatan migrasi ke transportasi umum berbasis listrik,” kata Djoko yang juga Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) di Jakarta, dikutip Senin (13/4/2026).
Baca juga : RI Siap Produksi Massal Mobil Listrik
Djoko menilai dominasi kendaraan pribadi dalam konsumsi energi transportasi menjadi persoalan utama yang harus diatasi melalui kebijakan peralihan ke angkutan publik secara masif.
Menurut Djoko, elektrifikasi armada transportasi, terutama bus, harus dilakukan secara bertahap namun berkelanjutan.
Djoko menyebut langkah tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga mendukung target pengurangan emisi nasional.
Djoko juga mendorong integrasi antarmoda seperti KRL Commuterline, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta agar masyarakat terdorong meninggalkan kendaraan pribadi.
Selain itu, Djoko menyoroti perlunya reformasi subsidi energi yang dinilai selama ini lebih banyak dinikmati pengguna kendaraan pribadi. Djoko mendorong digitalisasi penyaluran subsidi agar lebih tepat sasaran dan diarahkan untuk angkutan umum serta sektor logistik.
“Subsidi BBM perlu direlokasi untuk pembangunan infrastruktur seperti SPKLU, jalur sepeda, serta fasilitas pejalan kaki,” ujar Djoko.
Djoko juga menekankan pentingnya penguatan transportasi barang berbasis rel melalui optimalisasi jalur ganda dan reaktivasi rel lama di Pulau Jawa dan Sumatera.
Menurut Djoko, moda kereta api jauh lebih efisien dibandingkan angkutan truk berbasis jalan raya.
Djoko menambahkan, pengembangan bahan bakar nabati seperti biodiesel B40 dan B50 tetap perlu dilanjutkan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional yang lebih seimbang.















