PravadaNews – Sebanyak 611 pelaut India masih tertahan di perairan Teluk Persia setelah 22 kapal berbendera India gagal melintasi Selat Hormuz akibat penghentian lalu lintas pelayaran.
Sekretaris Khusus Kementerian Pelabuhan, Perkapalan, dan Perairan India, Rajesh Kumar Sinha, memastikan seluruh awak dalam kondisi selamat meski harus menunggu kepastian izin melintas.
“Sebanyak 1,67 juta ton minyak mentah India, 3,2 lakh ton LPG, dan sekitar dua lakh ton LNG tertahan di 22 kapal berbendera India di Teluk Persia, menunggu untuk melewati Selat Hormuz,” ujar dia seperti dikutip The Times of India, dikutip Jumat (20/3/2026).
Baca juga : IRGC Serang Fasilitas Minyak
Selain keselamatan awak, perhatian juga tertuju pada muatan energi dalam jumlah besar yang ikut tertahan. Total lebih dari 1,67 juta ton minyak mentah, 320.000 ton LPG, serta sekitar 200.000 ton LNG belum dapat dikirim ke India.
Penghentian pelayaran di Selat Hormuz terjadi setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, termasuk ke Teheran. Serangan itu dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Eskalasi ini berdampak langsung pada keamanan jalur pelayaran internasional.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur vital distribusi energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut tidak hanya menahan kapal, tetapi juga berpotensi menghambat ekspor serta produksi minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia.
Situasi ini menempatkan keselamatan pelaut dan stabilitas pasokan energi global dalam tekanan, seiring belum adanya kepastian kapan jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka.















