PravadaNews – Kadar kolesterol tinggi tidak selalu dipicu oleh pola makan semata. Sejumlah faktor yang kerap luput dari perhatian justru berperan besar dalam meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke secara diam-diam.
Dokter spesialis jantung Bharat Sangani dan Nathaniel Lebowitz mengungkapkan bahwa faktor genetika menjadi salah satu penyebab utama yang sering diabaikan.
Dalam siaran Eating Well, mereka menyoroti peran lipoprotein (a) atau Lp(a) sebagai komponen berisiko tinggi.
“Lipoprotein (a) yang tinggi dapat meningkatkan risiko kardiovaskular bahkan ketika angka kolesterol rutin tidak terlihat terlalu tinggi,” kata Sangani, dikutip Rabu (6/5/2026).
Baca juga : Meditasi Jadi Kunci Redam Stres Modern
Lebowitz menambahkan, kondisi bawaan tersebut tidak terpengaruh oleh gaya hidup sehat.
“Kadar Lp (a) yang tinggi dapat secara signifikan meningkatkan risiko terlepas dari gaya hidup sehat,” ujar Lebowitz.
Lebowitz menjelaskan, Lp(a) merupakan partikel kolesterol yang sangat lengket, memicu pembekuan dan peradangan di arteri serta mempercepat pembentukan plak.
Karena tidak merespons perubahan pola makan, faktor genetika ini, menurut Lebowitz, menuntut kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kolesterol secara berkala.
Selain genetika, kualitas tidur juga berperan penting dalam memengaruhi kadar kolesterol. Lebowitz mengatakan kurang tidur dapat mengganggu hormon metabolisme.
“Kurangnya istirahat berkualitas dapat mengganggu hormon yang mengatur metabolisme, yang menyebabkan perubahan yang tidak menguntungkan pada kolesterol,” ucap Lebowitz.
Kondisi tersebut memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol, yang berdampak pada keseimbangan lemak dalam darah.
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah peradangan kronis. Lebowitz menyebutkan bahwa kondisi seperti penyakit autoimun, gangguan gusi, atau infeksi berkepanjangan dapat mengubah cara tubuh mengelola kolesterol.
“Peradangan kronis dapat secara diam-diam mengubah cara tubuh mengelola kolesterol dan meningkatkan risiko penumpukan plak di arteri,” kata Lebowitz.
Dalam jangka panjang, peradangan ini menyebabkan kerusakan pada dinding arteri serta mengganggu proses metabolisme lemak.
Sementara itu Ahli gizi, Michelle Routhenstein menjelaskan bahwa lonjakan kortisol dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL, sekaligus menghambat proses pembersihan kolesterol dari aliran darah.
Adapun para ahli menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam mengendalikan kolesterol, tidak hanya melalui diet, tetapi juga pemeriksaan profil lemak secara rutin, pengelolaan stres, serta menjaga kualitas tidur.
Upaya tersebut dinilai krusial mengingat peningkatan kolesterol kerap terjadi tanpa gejala, namun berdampak serius terhadap kesehatan kardiovaskular.















