PravadaNews – Tekanan terhadap rupiah masih belum mereda. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat dan bertahan di level Rp 17.500 pada perdagangan Rabu (13/5/2026), memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas mata uang domestik.
Berdasarkan data Bloomberg dikutip hari ini, dolar AS dibuka naik 0,05% ke posisi Rp 17.537. Angka tersebut lebih tinggi dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 17.528 per dolar AS.
Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik. Ia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dibanding krisis moneter 1998.
“(Masyarakat) nggak perlu panik karena pondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahan di mana dan bisa kita betulin. Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi, nggak akan jelek malah,” kata Purbaya di Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Rabu (13/5).
Purbaya mengatakan pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah untuk membantu memperkuat nilai tukar rupiah. Upaya tersebut akan dilakukan bersama Bank Indonesia dengan fokus menjaga stabilitas pasar surat berharga atau bond market.
“Itu kan tugas bank sentral. Cuma kita sedang ambil langkah-langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market. Mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa enggak, tetapi pasti ke depan akan ada perbaikan, jadi jangan takut,” ucap Purbaya.
Menurut Purbaya, stabilitas di pasar obligasi menjadi kunci untuk menahan arus keluar modal asing. Jika pasar bond tetap kuat, investor dinilai tidak akan buru-buru melepas asetnya karena risiko kerugian bisa ditekan.
“Kalau bond market stabil, orang itu nggak jual, mereka nggak takut dengan capital loss, yang keluar juga akan berkurang. Itu hitungan saya, apalagi kalau nanti bond-nya menguat, kan ada potensi capital gain, biasanya mereka suka, itu yang keluar-keluar akan masuk ke situ. Kita akan jaga stabilitas di bond market, membantu bank sentral. Tentunya kami akan berkoordinasi dengan bank sentral juga,” imbuh Purbaya.















