PravadaNews – Per Juni 2026, kenaikan harga Pertamax menambah beban baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan kendaraan untuk menjalankan usahanya.
Kenaikan BBM tentu berkaitan dengan beban biaya operasional seperti membeli bahan baku, mengantar pesanan, hingga melayani konsumen.
Tekanan tersebut muncul setelah PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax dengan Research Octane Number (RON) 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Kenaikan Rp3.950 per liter itu setara sekitar 32% dari harga sebelumnya. Penyesuaian juga berlaku pada Pertamax Green 95, yang naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Sementara itu, harga BBM bersubsidi tidak berubah dalam daftar harga terbaru Pertamina. Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar masih Rp6.800 per liter.
Meski kenaikan terjadi pada BBM nonsubsidi, dampaknya tetap berkaitan dengan pelaku usaha kecil yang memakai kendaraan pribadi untuk operasional. Pada usaha berskala kecil, tambahan ongkos bensin dapat langsung masuk ke biaya produksi.
Baca Juga: Industri Sawit Indonesia siap Beralih ke Teknologi Rendah Emisi
Senada dengan itu, Peneliti Center of Digital Economy and SMEs Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nur Komaria menilai, kenaikan BBM berpotensi menambah tekanan terhadap keberlanjutan UMKM.
“Kenaikan BBM ini berpotensi memberikan dampak terhadap UMKM, terutama pada sisi operasional, distribusi, dan pelayanan. Sektor yang paling terdampak antara lain usaha jasa, kurir, serta UMKM kuliner yang memberikan layanan distribusi makanan dan sangat bergantung pada mobilitas harian,” ucap Nur, dikutip Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, UMKM kuliner dan ritel kecil banyak menggunakan kendaraan untuk membeli bahan baku atau mengantar pesanan. Saat harga Pertamax naik, aktivitas rutin tersebut berubah menjadi margin tambahan.
Nur melihat UMKM di perkotaan lebih cepat merasakan dampak tersebut karena banyak memakai bensin untuk jarak pendek dengan frekuensi tinggi. Ritme operasional yang berlangsung harian membuat perubahan harga Pertamax lebih cepat terasa pada arus kas usaha.
“Tantangan terhadap UMKM juga semakin berat karena dari sisi operasional terdapat tekanan akibat peningkatan harga BBM, biaya logistik, serta berbagai biaya lain yang harus ditanggung pelaku usaha,” jelas Nur.
Dalam kondisi itu, pelaku UMKM menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga atau menahan margin. Jika harga jual ditahan, ruang keuntungan semakin tipis karena biaya operasional dan distribusi ikut meningkat.














