PravadaNews – Penanganan stunting yang terlambat menyisakan risiko sejak kehamilan, saat kekurangan gizi ibu memengaruhi pertumbuhan janin dan berat kelahiran bayi.
Penerima Grand Riset Sawit Ratu Ayu Dewi Sartika, M.Sc. mengaitkan, berat bayi lahir rendah (BBLR) dengan risiko stunting. Penanganan sejak kehamilan dinilai lebih efektif dibandingkan menunggu gangguan pertumbuhan muncul ketika anak memasuki usia balita.
“Kalau bayinya sudah BBLR, kemungkinan stuntingnya akan tinggi daripada kita terus memberikan intervensi yang dia sudah besar anaknya,” kata Ratu saat ditemui di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Adapun penelitian tersebut menganalisis anemia dan rendahnya konsumsi vitamin A sebagai faktor yang dapat memengaruhi berat kelahiran bayi. Analisis membedakan dampak intervensi dengan kondisi kesehatan dan kecukupan gizi setiap peserta penelitian.
Lebih lanjut, trimester ketiga menjadi perhatian karena kebutuhan asupan ibu meningkat seiring pertumbuhan janin menjelang persalinan.
“Paling tidak penanganannya harus lebih dini lagi, lebih awal pada saat trimester ketiga,” ujar Ratu.
Sejalan dengan temuan itu, Ratu menilai Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap diperlukan, namun intervensi gizi perlu dimulai sejak kehamilan. Cakupan kepada ibu hamil diarahkan mencegah bayi lahir dengan berat rendah sebelum risiko stunting berkembang pada masa pertumbuhan.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN) Khairul Hidayati menempatkan pemenuhan gizi sebagai bagian dari pembangunan manusia. BGN menempatkan peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui sebagai kelompok sasaran MBG.
“Membangun bangsa yang kuat harus dimulai dari pembangunan manusianya. Melalui Program MBG, pemerintah sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya generasi unggul yang akan menjadi penggerak pembangunan, penjaga ketahanan nasional, dan penentu masa depan Indonesia,” ucap Hida, Selasa (9/6).
Selain itu, BGN mengukur keberhasilan MBG melalui dampak program terhadap kualitas sumber daya manusia, bukan sekadar jumlah penerima. Pelaksanaannya mencakup pengawasan mutu gizi, keamanan pangan, akuntabilitas, serta pemantauan layanan bagi kelompok sasaran.
Seperti diketahui, penelitian dan kebijakan menempatkan masa kehamilan sebagai bagian penting dalam pencegahan stunting. Pencegahan BBLR melengkapi MBG agar intervensi gizi dimulai sebelum gangguan pertumbuhan ditemukan pada anak.















