Presiden Prabowo Subianto saat pidato sidang tahunan MPR, DPR, dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta. (Foto: Dok. Instagram @Presidenrepublikindonesia)

Beranda / Ekonomi / Impor Naik di Balik Klaim Swasembada Pangan

Impor Naik di Balik Klaim Swasembada Pangan

PravadaNews – Ketika delapan komoditas pangan disebut telah swasembada, kebutuhan terhadap sejumlah pangan dari luar negeri justru kembali membesar pada paruh pertama 2026.

Setelah sempat menyusut sepanjang 2025, volume impor 12 komoditas utama naik dari 13,1 juta ton menjadi 14,7 juta ton pada Januari–Juni tahun ini.

Kenaikan tersebut berjalan di tengah upaya pemerintah memperbesar produksi domestik agar semakin banyak kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari hasil dalam negeri.

Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu capaian pemerintah setelah target empat tahun disebut dapat diwujudkan hanya dalam setahun.

“Dan karena kebijakan-kebijakan kita dan kerja keras kita, swasembada pangan yang dahulu kita targetkan tercapai dalam empat tahun, ternyata berhasil kita capai dalam waktu satu tahun,” kata Prabowo dalam pidatonya di Sidang tahunan MPR, DPR, dan DPD RI, dipantau redaksi melalui youtube DPR RI, Jumat (14/8/2026).

Capaian itu meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging dan telur ayam, bawang merah, serta cabai besar dan cabai rawit.

Namun, tercukupinya delapan komoditas tersebut belum menghentikan kebutuhan impor pangan lain yang masih masuk dalam jumlah besar ke pasar domestik.

Di tengah capaian ini, Guru Besar IPB University sekaligus Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dwi Andreas Santosa mencatat perjalanan impor pangan menunjukkan arah berbeda dalam jangka panjang.

Berdasarkan perhitungannya, volume impor 12 komoditas utama melonjak dari 8,3 juta ton pada 2008 menjadi 22,6 juta ton pada 2014, kemudian mencapai 34,4 juta ton pada 2024.

Arus tersebut sempat berbalik pada 2025 ketika totalnya turun menjadi 27,7 juta ton atau berkurang 6,7 juta ton dibandingkan setahun sebelumnya.

Namun, penurunan itu belum berlanjut karena selama Januari–Juni 2026 volume impor kembali naik menjadi 14,7 juta ton dari 13,1 juta ton pada periode sama 2025.

“Kalau kita bicara terkait swasembada pangan, tahun 2024 saja kita mengimpor total 12 komoditas utama sebanyak 34 juta ton, lebih tinggi daripada produksi beras kita. Sehingga agak susah kita menyampaikan bahwa kita sudah mencapai swasembada pangan,” jelas Andreas dalam keterangannya di Youtube CORE Indonesia.

Sebagai pembanding, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras untuk konsumsi penduduk sepanjang 2024 sebesar 30,62 juta ton, lebih rendah daripada gabungan volume impor 12 komoditas yang dihitung Andreas.

“Kalau yang disebut swasembada pada delapan komoditas yang disampaikan, ya memang sudah cukup lama kita swasembada pada delapan komoditas tersebut,” ujar Pengamat ini. 

Sementara delapan komoditas telah mampu dipenuhi dari produksi domestik, kenaikan impor pada semester pertama 2026 menunjukkan kebutuhan terhadap kelompok pangan lainnya masih berjalan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *