PravadaNews– Menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip sumber pejabat, Amerika Serikat menuntut Iran untuk menonaktifkan fasilitas pengembangan nuklir utamanya dalam putaran ketiga negosiasi di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2/2026).
Selain itu, Washington meminta seluruh cadangan uranium yang diperkaya diserahkan kepada pihak AS di bawah perjanjian yang bersifat permanen tanpa batas waktu.
“Pemerintah AmerikaSerikat dilaporkan mendesak Teheran untuk menonaktifkan tiga situs nuklir strategis mereka yang berlokasi di Fordow, Natanz, dan Isfahan,” ungkap sumber Pejabat tersebut dikutip Sabtu (28/2).
Baca juga: Rudal Iran Bukan Ancaman Global
Selain penutupan fasilitas tersebut, kata Pejabat itu, Washington juga meminta pengosongan total stok uranium Iran yang diperkirakan berjumlah 10.000 kg untuk diserahkan sepenuhnya ke tangan AS.
Selain menuntut masa berlaku kesepakatan permanen, AS juga menunjukkan arogan melalui kebijakan toleransi nol terhadap pengayaan nuklir Iran.
“Satu-satunya kelonggaran yang mungkin diberikan adalah izin operasional reaktor Teheran, itu pun dengan syarat: hanya untuk pengayaan level rendah demi kebutuhan medis,” tutur Pejabat tersebut.
Adapun pernyataan Menteri Luar Neger AS, Marco Rubio sebelumya, mengakui ketiadaan pengayaan uranium oleh Iran, pada hari Rabu (25/2)
Kendati demikian, kata Pejabat itu, Washington tetap bersikap keras dengan hanya menawarkan pengurangan sanksi minimal, sementara janji pelonggaran yang lebih signifikan hanya akan ditepati jika Iran terus menunjukkan sikap kooperatif sampai depannya, menurutnya.
Sementara itu, laporan Axios mengungkapkan perundingan di Jenewa dilakukan melalui dua skema, yakni jalur tidak langsung dan pertemuan tatap muka antara delegasi Iran dan AS.
Terpisah, Republik Islam Iran akan terus mempertahankan hak memperkaya uraniumnyadan tanggapan AS dalam hal ini terlihat fleksibel. Teheran bisa menjamin program tersebut tidak bermuara pada persenjataan nuklir.
Pertemuan di Jenewa yang dimediasi Oman ini berlangsung intens selama lebih dari 3,5 jam menjadi sesi terpanjang sejauh ini dan diprediksi akan berlanjut ke tahap berikutnya.
SedangkanJuru bicara Kemlu Iran, Esmaeli Baghaei, menyatakan bahwa negosiasi berjalan secara serius dan intens. Esmaeli mengungkapkan bahwa kedua belah pihak telah mengajukan ‘usulan yang berarti dan praktis’ terkait persoalan nuklir serta pencabutan sanksi.
“Meski begitu, kami menyayangkan adanya inkonsistensi atau pernyataan kontradiktif dari pihak AS di tengah berlangsungnya pembicaraan tersebut,” pungkas Esmaeli. (Bila)















