PravadaNews – Anggota Komisi XI DPR RI, Muhidin Mohamad Said menyoroti kebijakan tarif nol persen untuk sejumlah komoditas asal Amerika Serikat seperti jagung dan kedelai.
Muhidin mengatakan, kebijakan itu sangat memberikan manfaat bagi masyarakat karena dapat menekan harga bahan pangan dalam negeri.
Sehingga, masyarakat dapat membeli komoditas tersebut dengan harga yang terjangkau.
“Barang-barang seperti jagung dan kedelai itu dikenakan tarif 0 persen. Artinya, harga di tingkat masyarakat bisa lebih murah dan daya belinya lebih bagus,” kata Muhidin dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).
Muhidin mengatakan, komoditas yang diimpor merupakan barang-barang yang memang masih menjadi kekurangan nasional.
Baca Juga: Aturan Pembatasan Tar-Nikotin Jadi Bom Waktu
Muhidin menyakini, impor dengan tarif nol persen tersebut tidak akan mematikan industri dalam negeri.
“Yang kita ambil sekarang ini adalah barang yang memang kita kekurangan. Tidak semuanya,” ujar Muhidin.
“Sama seperti minyak, yang kita impor itu tidak ada masalah karena memang kita butuhkan,” tambah Muhidin.
Muhidin mengatakan, impor dari Amerika Serikat dengan tarif nol persen tidak akan membebani impor nasional.
“Selama ini kita juga sudah membeli dari negara lain. Jadi ini hanya pemindahan tempat atau pengalihan sumber impor, bukan menambah volume yang tidak perlu,” kata Muhidin.
Baca Juga: DPR Minta Kaji Ulang Kebijakan Batasi Kadar Tar dan Nikotin Rokok IHT
Muhidin menuturkan, perjanjian dagang antara Indonesia dengan Amerika Serikat akan menguntungkan dua negara karena membuka akses pasar secara berimbang.
Muhidin mengingatkan bahwa setiap kebijakan ekonomi dan perdagangan harus memiliki dampak langsung kepada masyarakat.
“Setiap kebijakan, setiap perkembangan, harus menguntungkan masyarakat,” kata Muhidin.
“Kalau tidak menguntungkan masyarakat, untuk apa kebijakan itu diambil,” sambung Muhidin.
Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini menambahkan, perjanjian dagang Indonesia dengan Amerika Serikat memiliki dampak positif bagi ekspor nasional dan stabilitas harga di dalam negeri.
“Kita sudah saling menguntungkan. Kita beri tarif 0 persen untuk barang yang kita butuhkan, dan di sisi lain produk kita diterima dengan lebih baik. Ini kerja sama yang seimbang,” pungkas Muhidin.














