PravadaNews – Desakan terhadap aparat kepolisian mengungkap empat pelaku aksi teror brutal penyiraman air keras terhadap aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus semakin menggema.
Desakan penuntasan kasus itu muncul dari berbagai aspek kalangan mulai organisasi masyarakat, akademisi, politikus hingga para wakil rakyat di Senayan. Tak hanya itu, dalam sepekan ini isu terkait aksi teror ini juga turut direspon berbagai kalangan untuk meminta kepolisian mengungkap sosok aktor dibelakang layar atas kasus tersebut.
Salah satu yang turut berkomentar pedas mengenai desakan ke kepolisan segera mengungkap pelaku dari kasus itu yakni Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid.
Dalam keteranganya, sosok yang akrab disapa Usman itu mengecam serangan yang telah menimpa Andrie Yunus lantaran bukan hanya sebagai tindakan kriminal biasa melainkan sebagai alarm ancaman terhadap aktivis.
“Kepada para pelaku penyerang Andrie, kalian semua adalah para pengecut,” tegas Usman dalam keterangannya, dikutip Selasa (17/3/2026).
Baca juga : Istana Minta Kapolri Usut Tuntas Kasus Air Keras Aktivis KontraS
Usman menyebut bahwa ancaman terhadap Andrie yang merupakan sosok aktivis HAM bukan hal yang pertama kali terjadi. Tercatat, kata Usman, dalam beberapa tahun lalu Andrie dikabarkan juga mendapat sejumlah ancaman.
Ancaman itu ditenggarai muncul tidak terlepas dari kegiatan Andrie yang kerap berada di garis depan untuk menyuarakan kritik kepada pemerintah terutama mengenai isu yang berkaitan dengan militerisme dan reformasi sektor keamanan.
Diketahui, pada tahun lalu, Andrie Yunus juga sempat ramai menjadi perbincangan publik atas aksinya yang memimpin protes terhadap rapat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Hotel Fairmont Jakarta.
Aksi itu kemudian berbuntut pada serangkaian intimidasi, mulai dari teror telepon hingga ancaman fisik oleh orang-orang tak dikenal.
“Jangan pernah berpikir bahwa kami akan mundur selangkah pun. Rasa takut itu sudah kami kubur dalam-dalam,” ungkap Usman.
Belakangan, Andrie juga turut aktif dalam diskusi mengenai potensi ‘remiliterisasi’ dalam kebijakan negara, termasuk mendorong uji materi terhadap Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI)
Adapun hanya sehari sebelum aksi teror penyiraman air keras terjadi, Andrie juga dilaporkan baru saja mengikuti diskusi publik mengenai isu tersebut.
Meski Andrie kerap kali mengkritik isu HAM dan militerisme, Usman menekankan bahwa pihaknya tak ingin terburu-buru menyebut pihak tertentu yang disinyalir menjadi pelaku dan aktor intelektual yang menyerang air keras.
Usman menambahkan, hasil dari penyelidikan dan pengungkapan empat pelaku ini akan menjadi misteri babak baru bagi publik untuk mengukur sejauh mana keseriusan negara mengungkap kasus kekerasan terhadap mereka yang bersuara.
“Tema-tema Andrie memang sering berkaitan dengan militer, tetapi itu tidak berarti kita langsung menyimpulkan bahwa pelakunya berasal dari tentara,” tutup Usman.















