PravadaNews – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadwalkan operasi pembersihan sungai dan saluran air yang akan disertai penanganan ikan sapu-sapu pada Jumat (17/4). Langkah ini menjadi bagian dari persiapan menghadapi musim hujan yang diperkirakan datang pada September.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu di perairan Ibu Kota telah menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi ekosistem sungai, termasuk infrastruktur pengendali banjir.
“Kenapa ikan ini harus dibersihkan? Karena memang sudah merusak,” kata Pramono dikutip Kamis (16/4/2026).
Baca juga : DKI Kejar Pengerukan Kali Saat Kemarau
Pramono menjelaskan hasil uji laboratorium menunjukkan kadar tertentu pada ikan tersebut berada di atas ambang batas 0,3 miligram, sehingga dinilai tidak aman jika dikonsumsi.
Selain persoalan kesehatan, Pramono menyebut ikan tersebut turut merusak tanggul karena menjadikannya sebagai tempat persembunyian. Kondisi itu, menurut dia, dapat melemahkan struktur pengendali air di sejumlah titik sungai.
“Dia bisa menghancurkan tanggul-tanggul yang ada sebagai tempat persembunyian,” ujar Pramono.
Pramono juga menilai spesies tersebut mengganggu keberlanjutan ikan lokal dengan memangsa telur-telurnya. Karena sifatnya yang adaptif di air tercemar, ikan ini disebut sulit dikendalikan jika tidak dilakukan penanganan terkoordinasi.
“Memang ikan ini bisa hidup dalam segala cuaca termasuk dalam kondisi air yang sangat-sangat tidak sehat,” kata Pramono.
Pramono menambahkan, selain penanganan ikan invasif kegiatan tersebut akan mencakup pengerukan lumpur dan pembersihan saluran air sebagai bagian dari kesiapan menghadapi musim hujan mendatang.















