Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. (Foto: Dok. DPR RI)

Beranda / Politik / DPR Apresiasi Pemerintah Batalkan Sekolah Daring

DPR Apresiasi Pemerintah Batalkan Sekolah Daring

PravadaNews – Komisi X DPR RI mengapresiasi keputusan pemerintah yang membatalkan kebijakan pembelajaran di rumah kepada siswa/i.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai keputusan dari pemerintah terkait pembatalan metode pembelajaran dari rumah merupakan langkah yang sangat tepat bahkan perlu mendapatkan apresiasi.

Hetifah menekankan pengalaman selama masa pandemi mengenai kebijakan sekolah dari rumah telah memberikan pelajaran berharga bagi pemerintah.

Oleh karena itu, lanjut Hetifah, metode belajar tatap muka tetap menjadi metode paling optimal.

“Pemerintah sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan wacana belajar dari rumah. Menurut saya, ini langkah yang tepat dan perlu diapresiasi,” kata Hetifah, dikutip Kamis (26/3/2026).

Baca Juga: SBY Dukung Kebijakan Penghematan BBM Ala Prabowo

Hetifah menuturkan, pembatalan kebijakan pembelajaran daring merupakan langkah yang baik.

Selama pandemi Covid-19, jutaan siswa/i Indonesia menghadapi hambatan akses dari keterbatasan perangkat hingga minimnya pendampingan orang tua.

Hetifah menilai, rumah tidak selalu menjadi ruang belajar yang setara dan sekolah bukan sekadar institusi akademik.

“Kita belajar banyak dari masa pandemi, bahwa pembelajaran tatap muka tetap yang paling optimal,” terang Hetifah.

Menurut Hetifah, metode ruang sosial yang membetuk Interaksi antar siswa, kedisiplinan, hingga pembentukan karakter akan sulit direplikasi melalui layar digital.

“Bukan hanya untuk capaian akademik, tapi juga pembentukan karakter dan interaksi sosial anak-anak kita. Tidak semua siswa punya kondisi yang sama kalau harus belajar dari rumah.” ujar Hetifah.

Dalam sistem pendidikan yang hingga saat ini masih berjuang mengatasi disparitas antarwilayah, kebijakan belajar dari rumah juga berisiko memperdalam jurang antara siswa/i yang memiliki akses dan yang tidak.

Alasan kebijakan pembelajaran di rumah sebagai langkah strategi hemat energi belum cukup kuat untuk mendorong perubahan sistemik dalam pendidikan nasional.

“Kalau dikaitkan dengan isu energi, saya melihat urgensinya memang belum cukup kuat untuk sampai mengubah sistem pembelajaran secara luas. Apalagi dengan sistem zonasi sekarang, sebagian besar siswa bersekolah relatif dekat dari rumah,” kata Hetifah.

Hetifah menambahkan, pendidikan tidak bisa menjadi variabel utama dalam menghematan penggunaan BBM.

“Kami berharap, setiap kebijakan pendidikan yang signifikan dampaknya harus benar-benar dikaji secara matang, berbasis data, dan mempertimbangkan konsekuensinya secara menyeluruh, terutama agar tidak memperlebar kesenjangan,” tutup Hetifah.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *