PravadaNews – Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan terkait dugaan rencana pendudukan salah satu pulaunya. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan pihaknya telah menerima laporan intelijen mengenai rencana “musuh Iran” untuk menduduki wilayah tersebut dengan dukungan negara regional.
“Pasukan Iran memantau pergerakan musuh, dan jika mereka mengambil langkah apa pun, kami akan menyerang infrastruktur vital di negara regional tersebut dengan serangan terus-menerus dan tanpa henti,” kata Ghalibaf melalui media sosial, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (27/3/2026).
Baca juga : Iran Sebut AS Alami Kekalahan Strategis
Sejumlah analis menduga peringatan itu mengarah pada Uni Emirat Arab yang disebut-sebut dapat mendukung operasi bersama AS, meski tidak disebutkan secara resmi oleh pemerintah Iran.
Peringatan Teheran ini beriringan dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Washington tengah bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran.
Di sisi lain, Gedung Putih justru meningkatkan tekanan. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Iran harus menerima kondisi militer saat ini.
“Jika Iran gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” ujar Leavitt.
Leavitt menegaskan Presiden Trump siap melancarkan serangan lanjutan jika diperlukan.















