Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Foto: Dok. FraksiGolkar)

Beranda / Ekonomi / Pemerintah Tekan Energi saat Harga Global Naik

Pemerintah Tekan Energi saat Harga Global Naik

PravadaNews – Pemerintah terus merumuskan dan memperluas langkah‑langkah strategis untuk menekan konsumsi energi seiring dengan tekanan tajam pada harga energi global yang dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama perang yang melibatkan Iran dan sekutunya dengan kekuatan internasional.

Lonjakan harga minyak mentah dunia yang secara berulang menembus level lebih dari USD 100 per barel akibat gangguan pasokan dari jalur transit krusial seperti Selat Hormuz melewati sekitar 20 % kebutuhan ekspor minyak global telah menimbulkan gejolak pasar energi, menekan harga bahan bakar di tingkat konsumen serta memperberat inflasi di berbagai negara, termasuk di negara berkembang.

Situasi ini diperparah oleh gangguan pada infrastruktur energi dan penghentian arus ekspor minyak dan gas cair (LNG), sehingga mendorong pemerintah mempercepat upaya efisiensi energi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, serta menerapkan kebijakan pengelolaan konsumsi energi yang lebih ketat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan pasar global.

Baca juga: Pasokan Energi Arus Balik Aman

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pun mengimbau masyarakat agar menggunakan energi secara bijak demi menjaga ketahanan nasional.

Salah satu kebijakan yang segera diterapkan adalah skema kerja dari rumah atau work from home (WFH). Kebijakan ini telah diputuskan dan akan diumumkan dalam waktu dekat sebagai upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

“Pemerintah menargetkan kebijakan ini mampu menekan konsumsi BBM hingga 20%, meski dampaknya terhadap ekonomi masih terus dikaji,” ujar Bahlil dikutip, Jumat (27/3/2026).

Wacana WFH sendiri telah disampaikan Bahlil sejak pertengahan Maret, seiring meningkatnya kekhawatiran akan potensi krisis energi global akibat konflik geopolitik yang dapat memengaruhi pasokan minyak.

Selain mendorong kebijakan tersebut, Bahlil juga mengajak masyarakat untuk mulai dari langkah sederhana dalam menghemat energi, salah satunya penggunaan LPG secara efisien.

“Sekalipun kita sudah dalam kondisi yang baik, saya memohon dukungan dari semua rakyat Indonesia. Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah tapi masalah kita semua,” ucap Bahlil.

Tak hanya itu, Bahlil juga menyarankan agar masyarakat harus memakai energi dengan bijak. “Yang tidak perlu saya sarankan jangan. Contoh katakanlah kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak jangan kompornya boros,” pinta Bahlil.

Bahlil menegaskan, meski pasokan gas nasional masih dalam kondisi baik, partisipasi masyarakat tetap dibutuhkan untuk menjaga ketersediaannya.

“Kita harus betul-betul meminta bantuan rakyat untuk kita bersama-sama dalam memakai energi yang bijaksana,”jelas Bahlil.

Bahlil juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying, apalagi hingga diperjualbelikan kembali.

Bahlil menegaskan, SPBU diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat, bukan untuk kepentingan industri atau praktik penimbunan.

“Jangan sampai masih ada yang ngantre di SPBU-SPBU, mobil-mobil truk, padahal isinya bukan untuk ngangkut, tetapi itu abis itu diantri, abis itu dijual lagi. Ya ini saya pantau terus di lapangan,” kata Bahlil.

“Saya ingin menyampaikan, tolong kita memakai energi dengan bijak. SPBU ini bukan untuk industri, jadi tolong dipakai dengan bijaksana,” ujar Bahlil.

Bahlil juga menekankan, masyarakat tidak perlu panik. Pembelian BBM sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan harian.

“Kalau satu hari cukup 30 liter atau 40 liter, ya cukup. Tidak usah ada rasa panik. Pakailah secukupnya,” kata bahlil.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *