PravadaNews – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, memprioritaskan kendaraan mobil pribadi dan bus pada lintas penyeberangan Ketapang (Banyuwangi)–Gilimanuk (Bali) guna menjaga kelancaran arus balik Lebaran 2026 yang diprediksi mengalami lonjakan signifikan.
Kebijakan ini diterapkan sebagai langkah strategis untuk mengurai kepadatan kendaraan di pelabuhan sekaligus memastikan distribusi penumpang berjalan lebih tertib, aman, dan efisien di tengah tingginya mobilitas masyarakat usai perayaan Hari Raya Idulfitri.
Selain itu, pengaturan prioritas tersebut juga diiringi dengan penyesuaian pola operasional kapal dan manajemen antrean kendaraan di area pelabuhan, sehingga proses bongkar muat dapat berlangsung lebih cepat dan terukur.
Baca juga: Polda Malut Perketat Pengamanan Laut
Pihak ASDP menegaskan kebijakan ini bersifat situasional dan akan terus dievaluasi sesuai kondisi lapangan, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, kenyamanan, serta kelancaran layanan penyeberangan bagi seluruh pengguna jasa.
General ASDP Cabang Ketapang Arie Eko mengatakan, kendaraan truk logistik tidak diprioritaskan untuk menyeberang di Selat Bali itu selama arus mudik dan balik Lebaran.
“Tidak dibatasi, akan tetapi sesuai ketentuannya jika arus balik penyeberangan padat, truk logistik kami arahkan ke buffer zone di parkir Dermaga Bulusan atau Terminal Sri Tanjung, Pusri, tapi kalau landai bisa langsung diangkut,” kata Arie di Banyuwangi, Sabtu (28/3/2026).
Sebelumnya, Wakil Direktur Utama ASDP Yossianis Marciano mengimbau pengguna jasa untuk mengatur waktu perjalanan.
“Kami mengimbau pengguna jasa untuk menghindari perjalanan pada puncak arus balik Lebaran yang diprediksi akan terjadi pada tanggal 24, 28, dan 29 Maret 2026,” ujar Yossianis.
Pria yang akrab disapa Yossi ini menegaskan, seluruh langkah mitigasi telah disiapkan secara terukur dan siap dijalankan kapan pun diperlukan.
“Kami memastikan seluruh langkah operasional dilakukan secara terukur, adaptif, dan mengedepankan keselamatan sebagai prioritas utama. Dalam kondisi normal, arus penyeberangan diharapkan berjalan lancar, namun apabila terjadi lonjakan kendaraan maupun cuaca ekstrem, maka langkah mitigasi akan segera kami implementasikan secara cepat dan terkoordinasi,” ujar Yossi.
Dalam skenario kepadatan, khususnya saat volume kendaraan di kantong parkir Pelabuhan Ketapang mencapai 972 unit mobil, ASDP bersama KSOP, BPTD, dan Kepolisian akan menerapkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB).
Skema ini memungkinkan kapal langsung kembali beroperasi tanpa menunggu muatan penuh, sehingga mempercepat penguraian antrean. Kendaraan selanjutnya diarahkan menuju buffer zone, termasuk kawasan Bulusan, sembari ASDP mengoptimalkan armada berkapasitas besar seperti KMP Portlink VII milik ASDP dan KMP Liputan XII milik PT Segara Luas Samudra Abadi (SLSA) guna mempercepat proses bongkar muat.















