Ilustrasi jaringan optik bawah laut. (Foto: PravadaNews/Gemini IA)

Beranda / Mancanegara / Ancaman Iran Putus Kabel Internet Laut

Ancaman Iran Putus Kabel Internet Laut

PravadaNews – Kabar ancaman Iran yang disebut akan memutus jaringan kabel Internet bawah Laut di kawasan teluk pekan ini ramai menjadi perbincangan publik di media sosial (medsos).

Adapun kabar tersebut mencuat diduga sebagai bentuk kecaman Iran terhadap negara-negara di kawasan Teluk jika memberikan perlindungan ke Amerika dan Israel ditengah meningkatnya eskalasi tiga negara itu di Timur Tengah.

Kabar ancaman itu kini juga telah menambah kekhawatiran dunia apalagi jika wacana itu dilakukan. Sebelumnya, selama ini perhatian dunia dalam konflik di kawasan itu hanya tertuju pada ancaman jalur minyak di Selat Hormuz.

Sementara, jalur Selat Hormuz dan kawasan teluk itu diketahui bukan hanya menjadi titik strategis jalur pasokan energi melainkan juga menjadi lokasi keberadaan kabel- kabel serat jaringan optik bawah laut.

Baca juga: Iran Serang Kota-kota Israel dan Pangkalan Militer AS

Kabel laut yang berada di kawasan Teluk Timteng itu diperkirakan telah menjadi titik penting yang membawa lalu lintas data internet dunia. Adapun diperkirakan total 95 persen komunikasi data global sangat bergantung kepada kabel- kabel serat optik yang berada di dasar laut tersebut.

Sementara itu, Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) juga telah memperingatkan bahwa jaringan kabel serat optik bawah laut yang melintasi kawasan tersebut kini menjadi titik rawan yang luput dari sorotan publik.

BNPP menyebut dalam dunia yang semakin maju dalam digitalisasi, kabel-kabel ini dianggap bukan hanya sekadar infrastruktur teknis, melainkan juga menjadi tulang punggung komunikasi global.

Atas dasar itu, BNPP menegaskan gangguan kabel bawah laut di kawasan Teluk Persia juga dapat memicu efek berantai yang luas.

“Jika minyak sering dianalogikan sebagai darah perekonomian dunia, maka data adalah sistem sarafnya. Tanpa aliran data yang stabil, aktivitas modern dari transaksi keuangan hingga komunikasi antarnegara berpotensi terhenti dalam sekejap,” ujar keterangan rilis humas BNPP RI, dikutip Rabu (18/3/2026).

Di sisi lain, BNPP membeberkan ancaman Iran itu ditengarai juga akan berdampak ke berbagai aspek mulai dari lumpuh dan tersendatnya sistem perbankan hingga perdagangan global juga ikut melemah.

Selain itu, dampak yang lainnya yang ditenggarai juga akan muncul yakni terganggunya navigasi kapal dan pesawat hingga komunikasi pertahanan antarnegara terancam lumpuh.

“Dalam konteks ini, Selat Hormuz tidak lagi sekadar chokepoint energi, tetapi juga menjadi bottleneck komunikasi digital dunia.Yang membuat ancaman ini semakin kompleks adalah sifatnya yang nyaris tak terlihat,” ungkap rilis BNPP.

Dalam analisis yang disampaikan oleh kelompok ahli BNPP RI itu juga menyebutkan soal skenario terburuk dari dampak ancaman itu bukan hanya sekadar gangguan regional, melainkan juga merubah dunia menjadi apa yang disebut sebagai kegelapan digital.

“Berbeda dengan kapal tanker yang mudah dipantau, kabel bawah laut tersembunyi jauh di dasar laut rentan terhadap sabotase, konflik bersenjata, bahkan kecelakaan yang tampak sepele,” tulis tulis BNPP.

“Jadi ini sebuah kondisi di mana konektivitas global terganggu secara masif, memaksa negara-negara untuk menghadapi realitas baru, ketergantungan ekstrem pada infrastruktur yang rapuh,” sambung BNPP.

Bagi Indonesia, peringatan ini bukan sekadar wacana geopolitik yang jauh. Sebagai negara yang memiliki ribuan pulau dan juga bergantung pada jaringan kabel bawah laut untuk konektivitas domestik dan internasional, risiko serupa dapat memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.

Di tengah meningkatnya ketegangan global, ancaman terhadap infrastruktur digital global menjadi pengingat bahwa peperangan modern tidak selalu dimulai dengan ledakan, tetapi bisa dengan keheningan ketika data berhenti.

Melalui jaringan inilah berlangsung berbagai aktivitas digital dunia, mulai dari transaksi perbankan internasional, perdagangan elektronik, komunikasi diplomatik hingga layanan data dan media sosial.

BNPP menambahkan jika jaringan kabel tersebut terganggu akibat konflik atau sabotase, dampaknya dapat dirasakan secara global, termasuk gangguan transaksi keuangan, komunikasi nasional internasional, hingga stabilitas ekonomi digital.

“Dalam konflik modern, kabel bawah laut semakin dipandang sebagai target strategis. Sabotase terhadap infrastruktur komunikasi dapat melumpuhkan sistem ekonomi dan keamanan lawan tanpa perlu melancarkan serangan militer terbuka,” terang BNPP.

“Fenomena ini kerap disebut para analis sebagai perang kabel bawah laut, bagian dari perang hibrida di era digital,” tutup BNPP.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *