PravadaNews – Keputusan pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang tidak menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mendapatkan banjir dukungan dari masyarakat dan parlemen Senayan.
Keputusan itu dinilai merupakan langkah yang cukup berani dalam menyikapi situasi ketidakpastian ekonomi global dan krisis energi imbas konflik yang terjadi di Timur Tengah (Timteng) antara AS-Israel vs Iran.
Sejumlah negara di Asia seperti Filipina dan Thailand justru telah mengambil keputusan terbalik dari Indonesia yaitu tetap menaikan harga BBM imbas tidak kuatnya mempertahankan beban fiskal.
Atas dasar itu, Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Wihadi Wijanto, menilai keputusan itu merupakan langkah yang sangat tepat untuk mencegah inflasi dan menurunnya daya beli masyarakat.
Baca juga: Masa Kritis BBM RI Sudah Lewat
Sosok yang akrab disapa Wihadi itu menekankan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini cukup kuat dalam menjaga beban subsidi harga BBM ditengah situasi krisis energi yang berkelanjutan.
“APBN sangat mampu bekerja sebagai shock absorber untuk menahan tekanan global, khususnya dari sektor energi, agar tidak langsung membebani masyarakat,” kata Wihadi, Minggu, (12/4/2026).
Wihadi melihat kondisi ekonomi dipertengahan tahun ini juga telah menunjukan tren positif dengan nilai inflasi hanya jatuh pada level 3,48 persen per Maret 2026.
Sementara, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam quartal 4 juga telah menunjukan tren yang sangat positif yakni mencapai 5,39 persen di tahun 2025.
Oleh karena itu, Wihadi menyebut langkah keputusan pemerintah yang tidak menaikan harga BBM justru relatif akan membantu meningkatkan daya beli dan pendapatan negara.
Meski begitu, Wihadi menambahkan pemerintah harus tetap mempersiapkan langkah kebijakan strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi sebagai siasat mitigasi menyikapi situasi ketidakpastian geopolitik global.
“APBN masih berjalan dengan baik dan justru keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM dapat menjaga daya beli dan potensi penerimaan negara,” tutup Wihadi.















