PravadaNews – Petinggi militer Iran memberikan isyarat kepada dunia untuk bersiap menghadapi kenyataan baru soal potensi harga minyak global yang dapat melonjak hingga 200 dolar AS per barel.
Peringatan itu muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Teluk Persia setelah serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz, salah satunya milik Thailand.
Dalam keterangannya, juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah penyebab dari potensi kenaikan harga minyak dunia tersebut.
Ketidakstabilan keamanan di kawasan Selat Hormuz disebabkan serangan rudal AS dan Israel yang terjadi pada sepekan lalu.
“Bersiap-siaplah menghadapi harga minyak 200 dolar AS per barel. Karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan yang sudah kalian ganggu,” ungkap Zolfaqari dikutip Kamis (12/3/2026).
Adapun ancaman itu menandai fase baru dalam konflik yang telah mengguncang pasar energi dunia sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari.
Baca Juga: Iran Tolak Gencatan Senjata
Imbas konflik yang melanda Timur Tengah (Timteng) antara AS dan Israel melawan Iran itu juga telah berdampak terhadap harga minyak dunia.
Pada awal pekan ini, Harga minyak sempat melonjak di level tertinggi sejak 2022, hingga mencapai 18 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak itu ditengarai disebabkan serangan Israel ke depot minyak milik Iran di akhir pekan lalu.
Lonjakan harga minyak itu diduga juga telah memicu eskalasi gejolak di bursa saham global, dari Wall Street hingga Asia. Indeks-indeks utama di kawasan Asia ditengarai telah mengalami penurunan yang cukup tajam seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik yang terjadi di Teluk dapat mengganggu jalur pasokan energi paling vital di dunia.
Beberapa negara Asia Tenggara bahkan mulai mengambil langkah darurat. Sejumlah negara di Asia seperti Thailand, Filipina, dan juga Vietnam memerintahkan sebagian pegawai negeri untuk bekerja dari rumah guna mengurangi konsumsi energi nasional.
Kebijakan itu telah mencerminkan kekhawatiran dari berbagai pihak bahwa lonjakan harga energi dapat segera berdampak langsung pada ekonomi domestik.
Meski begitu, pada pertengahan pekan ini, pasar sedikit mereda setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik dengan Iran akan segera berakhir. Pernyataan itu berhasil turut membantu menenangkan keyakinan investor dan menekan kembali harga minyak.
Dalam beberapa hari terakhir Iran dilaporkan meningkatkan eskalasi serangan ke sejumlah infrastruktur strategis di kawasan Israel hingga pangkalan minyak milik AS yang terletak di kawasan negara-negara tetangganya.
Target serangan Iran itu mencakup fasilitas energi di sejumlah negara di Timteng yaitu Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Serangan tersebut tampaknya bertujuan mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang mendukung operasi militer AS dan Israel.
Tidak hanya membalas serangan AS dan Israel, Iran pun mengambil langkah tegas dengan mengancam akan melakukan patroli keamanan di kawasan Selat Hormuz.
Ancaman itu pun ditengarai akan menjadi titik rawan sebab, Selat Hormuz yang merupakan jalur sempit itu telah menjadi penentu kebutuhan dari sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Baca Juga: Wamen P2MI Apresiasi Evakuasi WNI dari Iran
Serangan terhadap tanker pada Rabu waktu setempat juga telah memperkuat kekhawatiran dunia bahwa jalur strategis itu dapat berubah menjadi medan konflik terbuka.
Menurut Zolfaqari, militer Iran kini akan mengincar institusi keuangan di kawasan Timur Tengah, sebagai bentuk respons atas pengeboman beberapa kantor perbankan di Kota Teheran oleh AS dan Israel pada Selasa malam.
Zolfaqari memperingatkan bahwa bank-bank yang berbisnis ataupun terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel juga berpotensi menjadi sasaran serangan.
Militer Iran bahkan mengeluarkan peringatan tidak biasa kepada warga sipil di kawasan tersebut agar dapat menjauh setidaknya satu kilometer dari kantor-kantor perbankan.
Ancaman itu ditengarai menambah dimensi baru dalam peta konflik yang sebelumnya berfokus pada instalasi militer dan energi.
Sementara itu, bagi pasar global, ancaman harga minyak 200 dolar per barel dianggap bukan sekadar retorika.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa pasokan minyak dunia juga dapat mengalami guncangan yang cukup besar jika Selat Hormuz terganggu atau serangan terhadap fasilitas energi terus meningkat.
Selain itu, dalam skema terburuk, krisis energi global ditengarai juga bisa kembali terjadi mengingatkan pada konflik yang berdampak pada gejolak minyak di dekade-dekade sebelumnya.















