PravadaNews – Serangan udara militer Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran pada akhir pekan lalu telah menimbulkan kemarahan seluruh rakyat Teheran. Serangan udara itu juga telah menewaskan pemimpin besar Iran, Ayatollah Ali Khamenei beserta keluarga dan beberapa petinggi militer di negara tersebut.
Tak menunggu waktu lama, Iran langsung membalas serangan AS-Israel ke jantung Kota Tel Aviv menggunakan sejumlah rudal balistik miliknya dan drone tanpa awak. Selain itu, Iran juga semakin agresif membombardir pangkalan militer milik AS di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Tak hanya melakukan serangan balasan, Iran memutuskan untuk menempatkan ratusan prajurit militer di kawasan Selat Hormuz untuk melakukan pengawasan dan penjagaan ketat.
Kebijakan itu berdampak terhadap terganggunya distribusi minyak mentah secara global. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran tersibuk di daerah Timteng yang di lewati hampir 30 persen kapal pengangkut minyak mentah.
Terhambatnya distribusi minyak mentah di Selat Hormuz, telah mengubah kebijakan negara-negara di Timteng seperti Arab Saudi, Uni Emirat, Irak dan Kuwait untuk menghentikan atau menutup sementara distribusi minyak dalam skala besar.
Adapun penutupan ladang minyak imbas gangguan pengiriman di Selat Hormuz itu juga berpotensi mengganggu produksi dan rantai pasok energi.
Kepala Tim Komersial Amerika Rystad Energy, Amir Zaman menilai, akibat konflik AS-Israel dan Iran dalam sepekan ini juga mengakibatkan distribusi dan produksi minyak mentah skala global terganggu meski gencatan senjata disepakati.
“Konflik mungkin bisa berakhir, tetapi pemulihan produksi bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tergantung pada jenis ladang minyak, usia ladang tersebut, serta jenis penghentian produksi yang harus dilakukan sebelum produksi bisa kembali ke tingkat semula,” tutur Amir Zaman dikutip dari Reuters, pada Minggu (8/3/2026).
Di sisi lain, keputusan Iran yang menargetkan sejumlah titik infrastruktur energi milik AS-Israel dan negara sekutunya di kawasan Timteng akan berdampak panjang terhadap arus kebutuhan minyak dan energi global.
Aksi serangan AS-Israel terhadap Iran melalui jalur penerbangan udara kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal serta drone tanpa awak, serba juga kebijakan menjaga ketat Selat Hormuz telah menimbulkan kerusakan terhadap Infrastuktur kilang minyak yang menamakan waktu perbaikan agar dapat beroperasi kembali.
Salah satu negara produsen gas terbesar di dunia, Qatar juga telah menyatakan situasi darurat untuk menutup ekspor gasnya dampak dari serangan drone tanpa awak Iran ke wilayahnya. Qatar sendiri memasok sekitar 20% kebutuhan gas alam cair (LNG) dunia.
Salah satu sumber Reuters yang tidak ingin disebutkan namanya, menyebut produksi kemungkinan akan baru bisa dijalankan setelah dilakukan perbaikan dalam waktu paling cepat sebulan.
Sementara itu, Arab Saudi sebagai negara produsen minyak yang memiliki kilang raksasa sekaligus eksportir minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco saat ini dilaporkan menghentikan operasi akibat serangan. Hingga kini belum ada rincian lebih lanjut terkait tingkat kerusakan yang terjadi.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Analis energi Natixis CIB, Joel Hancock menilai, jika gencatan senjata antara AS-Israel dengan Iran terjadi maka akan berdampak positif memulihkan pasar energi dan distribusi minyak mentah secara global.
Meski begitu, dampak terganggunya distribusi minyak mentah dan energi imbas konflik itu juga akan memakan waktu yang cukup lama untuk pemulihan.
“Jika melihat kerusakan fisik akibat serangan Iran, sejauh ini kami belum melihat kerusakan yang bisa dianggap bersifat struktural, meskipun risikonya tetap ada selama perang masih berlangsung,” kata analis energi Natixis CIB, Joel Hancock.
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump menawarkan pengawalan militer kepada kapal-kapal tangker pengangkut minyak yang melintas di kawasan Selat Hormuz setelah Iran menyatakan menutup akses di daerah tersebut.
Sementara berdasarkan sumber militer dan intelijen menyebut Iran telah memiliki kemampuan untuk melanjutkan serangan-serangan udara menggunakan drone tanpa awak kepada kapal yang melintas tanpa izin di Selat Hormuz selama berbulan-bulan.
Adapun konflik AS-Israel vs Iran di Timur Tengah (Timteng) itu juga berpotensi mendorong negara negara konsumen minyak mentah untuk menambah cadangan atas keperluan minyak strategis dari negara produsen diluar kawasan konflik tersebut.
Terhambatnya jalur distribusi minyak mentah akibat konflik di Timteng juga dapat berimbas terhadap meningkatnya permintaan minyak global serta meroketnya harga pembelian.















