Ilustrasi harga plastik naik. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Harga Plastik Nanjak Bikin Omzet Anjlok

Harga Plastik Nanjak Bikin Omzet Anjlok

PravadaNews – Kenaikan harga bahan baku plastik jenis polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung pada pelaku usaha kecil di tingkat bawah.

Lonjakan harga yang terjadi sejak awal Ramadan memicu kenaikan harga berbagai produk plastik di pasaran, mulai dari kantong plastik hingga wadah makanan.

Berdasarkan data terbaru, harga polypropylene (PP) tercatat mencapai 9.031 CNY per ton atau naik 124 poin (+1,39 persen), sementara polyethylene (PE) berada di angka 8.640 CNY per ton atau naik 176 poin (+2,08 persen).

Tren ini menunjukkan adanya kenaikan signifikan setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan di akhir tahun lalu. Lonjakan harga terlihat semakin tajam memasuki awal tahun 2026 dan berlanjut hingga periode Ramadan.

Baca juga: Sekuat Apa APBN Tahan Harga BBM?

Kenaikan harga bahan baku plastik sejak awal bulan Ramadan ini membawa dampak signifikan bagi para pedagang di kawasan Palmerah, Jakarta Barat.

Salah satunya dirasakan oleh Oplet, seorang pedagang toko plastik yang telah lama berjualan di wilayah tersebut. Oplet mengaku mengalami penurunan omzet akibat lonjakan harga yang cukup tajam pada berbagai jenis produk plastik.

Menurut Oplet, kenaikan harga mulai terasa sejak memasuki pekan pertama Ramadan. Sejumlah barang yang biasa ia jual mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan, sehingga memengaruhi daya beli pelanggan.

“Biasanya satu pack kantong plastik saya jual Rp 12.000, sekarang sudah naik jadi Rp 18.000,” ujarnya saat ditemui di tokonya, Senin (6/5/2026).

Tak hanya kantong plastik, beberapa produk lain juga mengalami kenaikan harga. Gelas plastik, misalnya, mengalami kenaikan sebesar Rp 1.000 per pack.

Sementara itu, mangkuk styrofoam yang sebelumnya dijual Rp 36.000 per pack isi 50 buah, kini naik menjadi Rp 41.000. Kenaikan ini, menurut Oplet, dipicu oleh naiknya harga bahan baku di tingkat distributor.

Oplet menjelaskan, kondisi tersebut membuat pelanggan, terutama pelaku usaha kecil, mulai mengurangi pembelian atau mencari alternatif yang lebih murah. Hal ini secara langsung berdampak pada penurunan omzet tokonya selama Ramadan.

“Pembeli jadi lebih hemat, biasanya beli banyak sekarang dikurangi. Omzet jelas turun,” tambah Oplet.

Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan oleh pelaku usaha kuliner di sekitar Palmerah. Nanang, seorang penjual gorengan, mengaku harus menghadapi kenaikan biaya produksi akibat harga plastik kemasan yang ikut melonjak. Nanang menyebutkan, harga plastik kemasan yang biasa dibeli naik dari Rp 13.000 menjadi Rp 17.000 per bungkus.

Meski demikian, Nanang memilih untuk tidak menaikkan harga jual dagangannya. Nanang khawatir kenaikan harga akan membuat pelanggan beralih ke penjual lain.

“Kalau harga dinaikkan, takutnya pembeli kabur. Jadi sementara ini saya tahan dulu,” ujar Nanang.

Saat ini, Nanang masih menjual empat gorengan dengan harga Rp 5.000, sama seperti sebelum terjadi kenaikan harga bahan baku. Keputusan tersebut tentu berdampak pada margin keuntungannya yang semakin menipis. Namun, Nanang mengaku lebih memilih menjaga loyalitas pelanggan di tengah persaingan yang ketat.

Fenomena kenaikan harga plastik ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada bahan kemasan. Baik pedagang bahan baku maupun penjual makanan, keduanya harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang tidak menentu setelah Ramadan.

Para pelaku usaha berharap harga bahan baku dapat segera stabil agar aktivitas perdagangan kembali normal dan daya beli masyarakat meningkat. Hingga saat ini, mereka hanya bisa bertahan sambil menunggu situasi membaik.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *