PravadaNews – Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi mengatakan, Amerika Serikat harus mencoba diplomasi dengan rasa menghormati dan meninggalkan kebijakan perang yang sia-sia terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan Gharibabadi dalam pidatonya di Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, dikutip Rabu (25/2/2026).
“Anda telah mencoba sanksi dan perang terkait Iran dan tidak membuahkan hasil. Sekarang saatnya untuk mencoba diplomasi dan rasa hormat,” kata Gharibabadi.
Diberikan sebelumnya, Utusan Khusus AS, Steve Witkoff mengatakan kepada Fox News, bahwa Presiden Donald Trump mengaku penasaran terhadap Iran karena tidak pernah menyerah dengan program nuklirnya.
Padahal, kata Witkoff, akan ada sanksi dan ancaman kekuatan militer dari Amerika. “Saya tidak ingin menggunakan kata frustrasi, karena Trump mengerti bahwa ia memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum menyerah,” kata Witkoff.
Baca Juga: Iran Tidak Lanjutkan Negosiasi dengan AS
Witkoff mengatakan bahwa Trump tidak ingin menggunakan istilah frustrasi dalam hal ini. Namun, Trump mempertanyakan alasan Teheran belum ingin berunding dengan AS.
“Dengan tekanan sebesar ini, dengan kekuatan laut dan angkatan laut yang kami miliki di kawasan tersebut, mengapa mereka (Iran) tidak datang dan mengatakan “bahwa kami tidak menginginkan senjata nuklir, dan kami siap lakukan?” ujar Witkoff.
Meski begitu, Witkoff mengakui bahwa mengajak Iran untuk berunding bukan hal yang mudah.
Menanggapi hal itu, Gharibabadi mengatakan, untuk mencapai perdamaian ke depan, perlunya rasa penghormatan yang tulus terhadap diplomasi antarnegara.
Gharibabadi menegaskan, bahwa AS dan Israel tidak akan pernah bisa menentukan hasil akhir dari perang.
“Musuh-musuh Iran mungkin memulai perang, tetapi mereka tidak akan mampu menentukan akhirnya,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Hukum dan Urusan Internasional Iran itu.
Lebih lanjut, Gharibabadi mengatakan, Iran tidak mencari agresi terhadap negara lain, tetapi akan dengan tegas menentang setiap konspirasi militer atau politik terhadap Republik Islam dan akan membela tanah air mereka.















