PravadaNews– Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pembicaraan penghentian perang tidak memiliki arti tanpa jaminan bahwa negaranya tidak akan kembali diserang.
Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Melalui unggahan di platform X, dikutip Kamis (19/3), Pezeshkian mengungkap isi pembicaraan teleponnya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dalam percakapan tersebut, Pezeshkian menyoroti apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
“Saya menekankan bahwa Iran tidak memulai perang yang mengerikan ini. Membela diri dari invasi adalah hak alami, dan kami sangat ahli dalam hal itu,” kata Pezeshkian.
Baca juga : Dua Tokoh Kunci Iran Tewas dalam Serangan
Pezeshkian menegaskan, syarat utama menuju perdamaianadalah jaminan keamanan teritorial Iran. Menurut Pezeshkian, setiap upaya diplomatik akan sia-sia jika ancaman serangan masih membayangi.
“Berbicara tentang mengakhiri perang adalah hal yang tidak berarti, sampai kita memastikan tidak akan ada lagi serangan di tanah kita di masa depan,” ujar Pezeshkian.
Selain itu, Pezeshkian mengkritik keberadaan militer asing di kawasan, khususnya penggunaan pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah. Pezeshkian menilai aktivitas tersebut memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara tetangga sekaligus mengganggu stabilitas regional.
Pezeshkian juga menolak narasi bahwa Iran sebagai pemicu konflik. Pezeshkian menuding perang dipicu oleh informasi yang tidak akurat dan kepentingan penaklukan.
“Memulai perang dengan tujuan untuk menaklukkan, berdasarkan informasi palsu, adalah sebuah tindakan abad pertengahan yang dilakukan di abad ke-21,” pungkas Pezeshkian.















