PravadaNews- Ketua Parlemen Iran menegaskan negaranya tidak akan menyetujui gencatan senjata selama pihak yang menyerang belum diberi pelajaran. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan militer yang melibatkan Teheran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Iran tidak menginginkan gencatan senjata sebelum pihak yang melakukan agresi terhadap negaranya diberi pelajaran agar tidak mengulangi serangan di masa depan.
Adapun pernyataan itu disampaikan Ghalibaf melalui unggahan di platform media sosial X dikutip Rabu (11/3/2026).
“Kami secara tegas tidak menginginkan gencatan senjata. Kami yakin bahwa agresor harus ‘ditampar’ agar ia belajar dari kesalahannya dan tidak pernah lagi memikirkan menyerang Iran kami tercinta,” tulis Ghalibaf.
Baca juga: Iran Sebut AS Ingin Memecah Negara
Menurut Ghalibaf, Teheran tidak ingin kembali terjebak dalam pola konflik yang berulang antara perang, negosiasi, dan gencatan senjata.
Ghalibaf, mengatakan Iran bertekad memutus siklus yang selama ini terjadi, yakni perang-negosiasi-gencatan senjata, lalu berperang lagi.
Sebelumnya, Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat berupaya menciptakan kekacauan di dalam negeri Iran sebagai bagian dari strategi untuk memecah negara itu. Tuduhan tersebut disampaikan pejabat tinggi keamanan Iran setelah rangkaian serangan militer yang memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan strategi yang digunakan Amerika Serikat bersama Israel adalah menciptakan instabilitas domestik agar Iran mudah terfragmentasi.
“Strategi musuh adalah menabur kekacauan di Iran sehingga mereka dapat dengan mudah memecah negara ini menjadi beberapa bagian,” kata Larijani di televisi pemerintah Islamic Republic of Iran Broadcasting dikutip Minggu (8/3/2026).















