PravadaNews – Pemerintah Iran menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi penyalahgunaan gencatan senjata oleh Amerika Serikat di tengah dinamika konflik kawasan. Teheran menilai jeda konflik berisiko dimanfaatkan untuk memperkuat kekuatan militer.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan skema gencatan senjata yang justru membuka peluang serangan lanjutan.
“Kami tidak memerlukan gencatan senjata yang memungkinkan musuh untuk kembali mempersenjatai diri dan melakukan agresi lagi,” kata Takht-Ravanchi, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Baca juga : Ayatollah: Rakyat Iran Pemenang Mutlak
Ravanchi menyatakan Iran tetap mendukung jalur diplomasi dan dialog dalam penyelesaian konflik. Namun, menurut Ravanchi, proses tersebut harus menjamin tidak adanya celah bagi pihak lawan untuk memperkuat posisi militer.
Ravanchi juga mengungkapkan bahwa Iran telah menyiapkan rencana 10 poin sebagai dasar dalam pembicaraan damai ke depan.
“Rencana tersebut disebut menjadi pijakan untuk memastikan proses negosiasi berjalan seimbang,” tutur Ravanchi.
Dalam pandangannya, respons militer Iran selama konflik turut memengaruhi kalkulasi strategis pihak lawan, termasuk Israel dan Amerika Serikat.
Ravanchi menilai tindakan angkatan bersenjata Iran telah memaksa kedua negara tersebut meninjau ulang pendekatan mereka terhadap Teheran.















