Menakar Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia Terhadap Buruh. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Menakar Dampak Kenaikan Minyak Dunia Terhadap Buruh

Menakar Dampak Kenaikan Minyak Dunia Terhadap Buruh

PravadaNews – Gejolak minyak mentah dunia membuat pelaku industri khawatir akan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Perang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia dalam gonjang-ganjing.

Kenaikan harga BBM membuat industri putar untuk menyelamatkan usahanya dari tekanan energi. Secara otomatis, kenaikan BBM akan membuat ongkos produksi naik dan melakukan penghematan.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal mengatakan, kenaikan harga BBM akan memberikan tekanan kuat terhadap pelaku industri.

“BBM industri itu tidak ada subsidi. Maka fluktuasi (harga BBM) mengikuti harga pasar. Kalau harga sudah di atas 120 dolar AS per barel, itu sudah pasti jeblok,” kata Said Iqbal saat diwawancarai PravadaNews, Senin (6/4/2026).

Said Iqbal menjelaskan, pelaku industri akan mendapatkan terkanan karena harga BBM naik dan kurs rupiah terhadap dolar anjlok.

Akibatnya, ongkos produksi naik, sehingga perusahaan akan melakukan penghematan. “Penghematan yang bisa dilakukan adalah efisiensi karyawan, salah satunya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),” kata Said Iqbal.

Said Iqbal mengatakan, kebanyakan bahan baku industri berasal dari impor dan dibeli dengan dolar.

“Dengan demikian, selisih kurs rupiah terhadap dolar yang makin anjlok, karena harga BBM naik akan membuat ongkos penjualan juga berat,” jelas Said Iqbal. “Mau nggak mau, lagi-lagi adalah efisiensi terhadap (karyawan) atau PHK,” tambah Said Iqbal.

Oleh karena itu, Presiden Partai Buruh itu mendorong agar pemerintah membentuk Satuan Tugas (Satgas) PHK.

“Sehingga, bisa melakukan pemetaan. Ini (Satgas PHK) sebelumnya pernah diusukan KSPI dan Partai Buruh dari satu tahun yang lalu kepada Bapak Presiden Prabowo,” kata Said Iqbal.

Said Iqbal menambahkan, Satgas PHK nantinya akan bertugas memberi pendampingan kepada karyawan.

“Satgas PHK ini memetakan nanti, kan nggak semua bisa dipukul rata penyebab daripada PHK-nya,” kata Said Iqbal.

BBM Subisidi-Nonsubsidi Tidak Naik

Sementara itu, pelaku industri sementara ini bisa bernafas panjang, karena pemerintah memutuskan untuk tidak menaikan harga BBM.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan, sampai saat ini tidak ada penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Untuk BBM yang non-subsidi sampai dengan hari ini, kami dengan tim Pertamina maupun dengan SPBU-SPBU swasta lain sedang melakukan pembahasan sampai waktu selesai,” ujar Bahlil, minggu lalu.

Namun, Bahlil memastikan untuk BBM non-subsidi dan SPBU swasta masih pakai harga yang sekarang ini ditetapkan oleh pemerintah.

“Jadi, artinya apa belum juga ada penyesuaian harga masih tetap masih tetap sama,” kata Bahlil.

Kemudian, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, keuangan negara mampu untuk menahan harga minyak dunia sampai level 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun.

“Itu kalau setahun penuh 100 dolar AS per barel. Tapi sekarang kan udah turun lagi. Rata-ratanya 76–77 (dolar AS per barel). Jadi, masih di bawah asumsi yang 100 dolar AS per barel,” ucap Purbaya, minggu lalu.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *