PravadaNews – Kereta Cepat Indonesia-China atau Whoosh menyisakan utang segunung. Kira-kira utangnya sudah menyentuh 7,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp120,38 triliun. Proyek Whoosh mencatatkan kerugian sejak beroperasi pada 17 Oktober 2023.
Kereta Api Indonesia (KAI) bersama tiga BUMN lainnya harus menanggung kerugian kereta Cepat Jakarta-Bandung itu. Masing-masing BUMN menanggung sesuai porsi sahamnya di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI).
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025 (unaudited), unit usaha KAT, PT PSBI mencatatkan kerugian hingga Rp4195 triliun sepanjang 2024.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan masih menunggu arah dari Presiden Prabowo Subianto terkait skema pembayaran utang Kereta Cepat Whoosh yang kabarnya akan dibeban ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga: Pergerakan IHSG Pekan Ini Tunjukkan Pemulihan
“Saya masih tunggu petunjuk (Bapak Presiden),” kata Purbaya, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Purbaya mengaku sama sekali belum mengetahui skema untuk membayar utang Kereta Whoosh. “Belum tahu. Belum ada petunjuk khusus dari Presiden,” kata Purbaya.
Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Pinjamin Simpanan (LPS) itu mengatakan, terdapat solusi baru yang ditawarkan oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani untuk skema pembayaran utang Whoosh. “Adanya dari Rosan, dari itu kan belum jelas,” kata Menkeu.
Purbaya menambahkan bahwa dirinya masih menunggu restu dan petunjuk Presiden saat ini untuk bayar utang Whoosh.
“Saya kalau ada petunjuk Presiden saya kerjain, sekarang belum. Paling tidak, ada tapi belum firm,” pungkas Purbaya. (ABP)















