Ilustrasi kilang minyak di teluk. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Mancanegara / Pasokan Minyak Mentah di Asia dan Eropa Mulai Terdampak

Pasokan Minyak Mentah di Asia dan Eropa Mulai Terdampak

PravadaNews – Dampak konflik geopolitik di Timur Tengah (Timteng) antara AS-Israel melawan Iran mulai terasa di pasar energi global, khususnya di Asia Timur.

Di Jepang, akhir penanganan ini lonjakan harga listrik terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kenaikan biaya bahan bakar.

Jepang yang merupakan importir gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) terbesar kedua di dunia telah menghadapi kenaikan harga kontrak listrik dasar untuk wilayah Tokyo.

Adapun kontrak untuk tahun fiskal yang dimulai pada April tercatat telah melonjak lebih dari sepertiga harga normal sepanjang pekan ini di dalam bursa European Energy Exchange (EEX).

Kenaikan tersebut dipicu oleh kekhawatiran bahwa harga bahan bakar akan meningkat di tengah ketidakpastian pasokan energi imbas keputusan Iran yang menutup Selat Hormuz.

Baca juga: https://pravadanews.com/eksodus-miliarder-dubai/

Situasi serupa juga terlihat di Korea Selatan. Di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, antrean kendaraan dilaporkan mengular. Para pengemudi bergegas mengisi bensin karena khawatir harga bahan bakar akan segera naik.

Tindakan AS dan Israel yang selama satu pekan ini terus menaikan eskalasi serangan ke Iran telah memicu aksi serangan balasan dari Teheran ke wilayah wilayah pangkalan militer milik AS dan wilayah Israel.

Sejumlah analis memperkirakan dampak dari aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran akan memicu tidak stabilnya harga bahan bakar dan energi dalam waktu yang cukup lama meskipun konflik berhenti dalam waktu dekat.

Serangan rudal dari Amerika dan Israel dengan disusul aksi balasan rudal Iran, yang melewati jalur udara di kawasan Timur Tengah (Timteng), kerusakan fasilitas energi dan infrasturktur imbas konflik itu juga turut menggangu distribusi pasokan minyak dan gas kebutuhan global.

Sementara itu, konsumen di Eropa menghadapi tekanan yang lebih berat. Krisis energi terbaru ini datang ketika kawasan tersebut masih bergulat dengan dampak terganggunya pasokan gas dari Rusia.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, sanksi terhadap sektor energi Rusia juga telah memaksa negara-negara Eropa mencari sumber pasokan alternatif. Banyak negara kemudian meningkatkan impor LNG untuk menggantikan gas pipa dari Rusia.

Dalam kondisi terbaru, Eropa diperkirakan perlu membeli sekitar 180 kargo LNG tambahan. Kondisi perang di Timur Tengah (Timteng) juga telah memaksa negara di kawasan Eropa memperbesar permintaan dibandingkan tahun lalu.

Langkah tersebut ditengarai juga diperlukan dalam rangka untuk memastikan kapasitas cadangan penyimpanan gas tetap memadai terutama menjelang musim dingin.

Sementara itu, analis dari JP Morgan menilai, meletusnya konflik di Timur Tengah (Timteng) itu berdampak merubah dinamika arus pasar energi dan bahan bakar minyak.

Hal itu tak terlepas dari kenyataan pahit yang dirasakan imbas konflik itu tidak lagi sekedar perhitungan soal resiko geopolitik saja namun juga berkaitan dengan beban operasional.

“Pasar kini bergeser dari sekadar memperhitungkan risiko geopolitik menjadi menghadapi gangguan operasional yang nyata, ketika penutupan kilang dan pembatasan ekspor mulai mengganggu pengolahan minyak mentah serta aliran pasokan regional,” tulis analis JP Morgan dalam catatan riset, dikutip dari Reuters, Minggu (8/3/2026).

Adapun terhambatnya distribusi energi dan bahan bakar minyak akibat konflik itu juga berpotensi menaikan harga pasar akibat dari beban operasional distribusi yang cukup membengkak.

Selain berdampak terhadap pasar energi dan ekonomi global, akibat pecahnya konflik itu juga dianggap akan memunculkan reaksi politik di AS terutama menjelang pemilu ke depan.

Kebijakan Donald Trump yang saat ini menjabat sebagai Presiden AS itu akan memicu reaksi sensitif dari sejumlah politikus negeri Paman Sam terutama mengenai dampak kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak imbas konflik serangan ke Iran di Timur Tengah (Timteng).

Di sisi lain, Kepala Tim Komersial Amerika Rystad Energy, Amir Zaman menilai, akibat meletusnya konflik AS-Israel vs Iran selama lebih dari sepekan ini ditengarai telah mengakibatkan distribusi dan produksi minyak mentah skala global terganggu meski gencatan senjata disepakati.

“Konflik mungkin bisa berakhir, tetapi pemulihan produksi bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tergantung pada jenis ladang minyak, usia ladang tersebut, serta jenis penghentian produksi yang harus dilakukan sebelum produksi bisa kembali ke tingkat semula,” tutur Amir Zaman dikutip dari Reuters, pada Minggu (8/3/2026).

Di sisi lain, keputusan Iran yang juga menargetkan sejumlah titik infrastruktur energi milik AS-Israel dan negara sekutunya di kawasan Timur Tengah (Timteng) termasuk kilang minyak dan Selat Hormuz dianggap juga akan berdampak panjang terhadap arus kebutuhan minyak dan energi global.

Aksi serangan (AS)-Israel kepada Iran melalui jalur penerbangan udara kemudian dibalas Teheran
dengan serangan rudal serta drone tanpa awak, serba juga kebijakan menjaga ketat Selat Hormuz telah menimbulkan kerusakan terhadap Infrastuktur kilang minyak yang menamakan waktu perbaikan agar dapat beroperasi kembali.

Salah satu negara produsen gas terbesar di dunia, Qatar juga telah menyatakan situasi darurat untuk menutup ekspor gasnya dampak dari serangan drone tanpa awak Iran ke wilayahnya. Qatar sendiri memasok sekitar 20% kebutuhan gas alam cair (LNG) dunia.

Salah satu sumber Reuters yang tidak ingin disebutkan namanya, menyebut produksi kemungkinan akan baru bisa dijalankan setelah dilakukan perbaikan dalam waktu paling cepat sebulan.

Sementara itu, Arab Saudi sebagai negara produsen minyak yang juga memiliki kilang raksasa sekaligus eksportir minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco saat ini dilaporkan juga menghentikan operasi akibat serangan. Hingga kini belum ada rincian lebih lanjut terkait tingkat kerusakan yang terjadi. (GIB)

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *